Doa Mustajab Bagaimana Cara Meraihnya ?

Meraih Doa Mustajab

doa mustajabMERAIH DOA MUSTAJAB[1]

Doa, di dalam Islam memiliki kedudukan sangat agung. Doa merupakan ibadah yang sangat dicintai oleh Allah. Doa merupakan bukti ketergantungan seorang hamba kepada Rabb Subhanahu wa Ta’ala dalam meraih apa-apa yang bermanfaat dan menolak apa-apa yang membawa mudharat baginya. Doa merupakan bukti keterkaitan seorang manusia kepada Rabb-nya, dan kecondongannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahwasannya tiada daya dan upaya melainkan dengan bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

PERBANYAKLAH DOA

Sebagian orang ada yang beranggapan, bahwa dirinya tidak selayaknya banyak meminta kepada Allah. Dia menganggapnya sebagai suatu aib. Menilainya sebagai sikap kurang bersyukur kapada Allah atau bertentangan dengan sifat qana’ah. Akhirnya ia menahan diri tidak meminta kepada Allah, kecuali dalam perkara-perkara yang dia anggap penting dan mendesak.

Sedang dalam masalah-masalah yang dianggapnya ringan dan sepele, ia merasa enggan meminta kepada Allah. Pemahaman seperti ini, jelas merupakan kekeliruan dan suatu kejahilan. Karena doa termasuk jenis ibadah, dan Allah marah jika seorang hamba enggan meminta kepadaNya.

Dalan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

Sesungguhnya doa adalah ibadah. [2] Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ

Dan Rabb-mu berfirman: “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [al Mu`min/40 : 60].

Doa ini -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala – sangat bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ

Doa itu bermanfaat bagi apa-apa yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi. Hendaklah kalian memperbanyak berdoa, wahai hamba-hamba Allah.[3]

Seorang muslim, selayaknya banyak berdoa setiap waktu. Karena doa merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak ada yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala daripada doa”.[4]

DOA TIDAK PERNAH MEMBAWA KERUGIAN

Seseorang yang meninggalkan doa berarti ia merugi. Sebaliknya seseorang yang berdoa, ia tidak akan pernah merugi atas doa yang dipenjatkannya, selama ia tidak berdoa untuk suatu dosa atau memutuskan tali silaturrahmi. Karena doa yang dipanjatkannya, pasti disambut oleh Allah, baik dengan mewujudkan apa yang dia minta di dunia, atau mencegah darinya keburukan yang setara dengan yang ia minta, atau menyimpannya sebagai pahala yang lebih baik baginya di akhirat kelak.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْعُو بِدُعَاءٍ إِلَّا آتَاهُ اللَّهُ مَا سَأَلَ أَوْ كَفَّ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهُ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ

Tidak ada seseorang yang berdoa dengan suatu doa, kecuali Allah akan mengabulkan yang ia minta, atau Allah menahan keburukan dari dirinya yang semisal dengan yang ia minta, selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau untuk memutuskan tali silaturrahim. [5]

Oleh karena itu, janganlah seorang hamba merasa keberatan meminta kepada Rabb-nya dalam urusan-urusan dunianya, meskipun urusan tersebut dianggapnya sepele, terlebih lagi dalam urusan akhirat. Karena permintaan itu merupakan bukti ketergantungan yang sangat kepada Allah, dan kebutuhannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua urusan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan :

إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلْهُ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya. [6]

ADAB-ADAB YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERDOA

Dalam berdoa, ada beberapa perkara dan adab yang harus diperhatikan oleh seseorang, sehingga doanya mustajab.

Pertama, memasang niat yang benar.

Seseorang yang berdoa, hendaklah meniatkan dalam doanya tersebut untuk menegakkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menggantungkan kebutuhannya kepadaNya. Karena siapa saja yang mengggantungkan hajatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , niscaya ia tidak akan rugi selama-lamanya.

Kedua, berdoa dalam keadaan bersuci.

Cara seperti ini lebih afdhal. Hanya saja, jika seseorang berdoa dalam kondisi tidak berwudhu’, maka hal itu tidak mengapa.

Ketiga, meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menengadahkan telapak tangan.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلَا تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

Jika engkau meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , maka mintalah dengan menengadahkan telapak tangan, dan janganlah engkau memintanya dengan menengadahkan punggung telapak tangan.[7] Kaifiatnya adalah, dengan mengarahkan telapak tangan ke wajah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [8] Atau dengan cara mengangkat tangan hingga nampak putih ketiaknya (bagian dalam ketiaknya).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ عَبْدٍ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ إِبِطُهُ يَسْأَلُ اللَّهَ مَسْأَلَةً إِلَّا آتَاهَا إِيَّاهُ

(Tidaklah seorang hamba mengangkat kedua tangannya hingga nampak ketiaknya dan memohon suatu permohonan, kecuali Allah mengabulkan permohonannya itu).[9]

Cara seperti menunjukkan ketergantungan seorang hamba kepada Allah, kebutuhannya kepada Allah, dan permohonannya yang sangat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Keempat, memulai dengan mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Cara seperti ini menjadi sebab lebih dekat kepada terkabulnya doa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya dan dia tidak mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang ini terburu-buru,” kemudian Rasulullah memanggilnya dan bersabda :

 إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah serta puja dan puji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , kemudian bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , setelah itu ia berdoa dengan apa yang ia inginkan. [10]

Kelima, bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Jika ia meninggalkan shalawat atas Nabi, doanya bisa terhalang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Semua doa terhalang, sehingga diucapkan shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[11]

Keenam, memulai berdoa untuk diri sendiri terlebih dahulu.

Demikian ini yang diisyaratkan dalam al Qur`an, seperti ayat:

رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ

Ya Rabb-ku! Ampunilah aku, dan ibu bapakku …… [Nuh/71 : 28].

Ketujuh, bersungguh-sungguh dalam meminta.

Janganlah seseorang ragu-ragu dalam doanya, atau ia mengucapkan pengecualian dengan mengucapkan “jika Engkau berkehendak ya Allah, berikanlah kepadaku ini dan ini”. Doa seperti itu dilarang, karena tidak ada sesuatupun yang dapat memaksa kehendak Allah.

Kedelapan, menghadirkan hati dalam berdoa.

Seorang hamba, hendaklah menghadirkan hati, memusatkan pikiran, mentadaburi doa yang ia ucapkan, serta menampakkan kebutuhan dan ketergantungannya kepada Allah. Janganlah ia berdoa dengan lisannya, namun hatinya entah kemana. Karena doa tidak akan dikabulkan dengan cara seperti itu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ

Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , sementara kalian yakin doa kalian dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.[12]

Kesembilan, berdoa dengan kata-kata singkat dan padat, serta doa-doa yang ma’tsur.

Tidak syak lagi, kata-kata yang paling padat dan paling singkat dan paling agung berkahnya adalah, doa-doa yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Doa-doa seperti itu banyak terdapat di dalam buku-buku As Sunnah.

Kesepuluh, bertawasul dengan nama dan sifat-sifat Allah.

Allah Ta’ala berfirman :

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepadaNya dengan menyebut asma-ul husna itu … … [al A’raf/7 : 180]. Atau seseorang bertawasul dengan amal shalih yang telah dia lakukan, sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang mashur tentang tiga orang yang terperangkap di dalam goa. Atau bertawasul dengan doa orang shalih yang mendoakan untuknya. Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini banyak ditunjukkan di dalam al Qur`an maupun Sunnah Nabi.

Kesebelas, memperbanyak ucapan “Yaa Dzal Jalaali wal Ikraam”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلِظُّوا بِيَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Ulang-ulangilah ucapan Yaa Dzal Jalaali Wal Ikraam. [13] Yaitu selalu ucapkan dan perbanyaklah dalam doa-doa kalian. Karena hal itu merupakan kata-kata pujian yang sangat tinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung. Dengan memperbanyak membacanya akan membantu terkabulnya doa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .

Keduabelas, mencari waktu-waktu yang mustajab dan tempat-tempat yang utama.

Ada beberapa waktu dan tempat-tempat yang utama, sebagaimana telah disebutkan di dalam nash-nash. Orang yang berdoa, sebaiknya mencari waktu tersebut dan memperbanyak doa pada waktu-waktu tersebut.

Di antara waktu-waktu yang utama dan mustajab adalah, waktu antara adzan dan iqamah, di dalam shalat, setelah selesai mengerjakan shalat-shalat fardhu, pada waktu sore hari, ketika berbuka puasa, di bagian akhir malam, dan sesaat pada hari Jumat -yaitu saat-saat terakhir pada hari Jumat- dan hari-hari di bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, pada hari ‘Arafah, pada waktu mengerjakan haji, di sisi Ka’bah, serta waktu-waktu dan tempat-tempat lainnya yang disebutkan di dalam atsar.

Ketigabelas, memperbanyak doa pada saat-saat lapang.

Upaya ini agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan permintaannya pada saat-saat sempit. Karena termasuk hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala mentakdirkan suatu bala (musibah), bahwasanya Allah menyukai mendengarkan rintihan hambaNya kepadaNya. Allah senang melihat para hamba kembali kepadaNya pada saat-saat sempit dan tercekam. Namun apabila seorang insan itu bertadharru’ pada saat-saat ia lapang, maka akan segera dikabulkan baginya permintaan-permintaannya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengatakan :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْتَجِيبَ اللَّهُ لَهُ عِنْدَ الشَّدَائِدِ وَالْكَرْبِ فَلْيُكْثِرِ الدُّعَاءَ فِي الرَّخَاءِ

Barangsiapa yang suka Allah mengabulkan doanya pada saat-saat sempit dan kesulitan, maka hendaklah ia banyak-banyak berdoa pada saat-saat ia lapang.[14]

PERKARA-PERKARA YANG HARUS DIHINDARI BAGI ORANG YANG BERDOA

Untuk mendukung agar doa seseorang dikabulkan, seseorang harus menghindari beberapa perkara yang dapat menghalangi terkabulnya doa.

Pertama, mengkonsumsi makanan yang haram.

Karena ini termasuk perkara yang menghalangi terkabulnya doa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Seorang laki-laki yang panjang perjalanannya, rambutnya acak-acakan dan berdebu, ia mengangkat tangannya ke langit dan mengatakan : “Ya Rabbi, ya Rabbi,” sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan barang yang haram, bagaimana ia akan diterima doanya? [15]

Kedua, terburu-buru dalam meminta dikabulkannya doa.

Permintaan yang tergesa-gesa itu dilarang, dan dapat menghalangi terkabulnya doa. Seseorang yang berdoa juga tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sikap terburu-buru bisa dikategorikan sebagai bentuk pendustaan terhadap janji Allah Subhanahu wa Ta’ala , padahal Allah telah berjanji mengabulkan doa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي

Akan dikabulkan doa salah seorang di antara kamu selama dia tidak terburu-buru; ia mengatakan “Aku sudah berdoa, namun tidak dikabulkan bagiku”.[16]

Ketiga, berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam berdoa. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ

Berdo’alah kepada Rabb-mu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS al A’raf/7 : 55).

Sa’ad Radhiyallahu anhu pernah melihat anak laki-lakinya berdoa, dan ia berkata dalam doanya : “Ya Allah, aku memohon kepadaMu surga, kenikmatannya, kemegahannya, begini dan begini. Dan aku berlindung kepadaMu dari api neraka, dari rantainya, belenggunya, begini dan begini”. Mendengar doa anaknya tersebut, Sa’ad Radhiyallahu anhu berkata: Wahai anakku, sesunggunya aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ إِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَ الْجَنَّةَ أُعْطِيتَهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْخَيْرِ وَإِنْ أُعِذْتَ مِنَ النَّارِ أُعِذْتَ مِنْهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الشَّرِّ

“Akan ada nanti kaum yang melampaui batas dalam berdoa. Jangan sampai engkau masuk ke dalam golongan mereka. Jika engkau diberikan surga, niscaya engkau akan diberikan semua apa yang ada di dalamnya. Jika engkau dihindarkan dari api neraka, niscaya engkau akan dihindarkan darinya dan seluruh keburukannya”. [17]

Keempat, meminta perkara-perkara yang mustahil.

Seperti seseorang yang berdoa agar dapat melihat Nabi dalam keadaan terjaga, atau ia berdoa agar dijadikan sebagai malaikat, atau ia berdoa meminta kekuatan, yang dengan kekuatan itu ia dapat mengangkat gunung, atau meminta kepada Allah berupa an nubuwah (kenabian). Karena hal itu tidaklah mungkin. Bahkan kalau ia meyakini diturunkannya nubuwah setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia bisa kafir karena hal itu. Dan permintaan seperti itu juga termasuk bentuk berlebih-lebihan dalam berdoa. Allahu a’lam.

Demikian, mudah-mudahan Allah berkenan memberikan taufiq kepada kita untuk senantiasa berdoa kepadaNya, dan menjadikan doa-doa kita sebagai doa mustajab. (Ummu Ihsan) Billahit taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079] ______

Footnote

[1] Diangkat dari kitab Muashu’ah Adab Islami.

[2] HR Ahmad, IV/267; Abu Dawud, 1479 dan at Tirmidzi, 2969 dan dishahihkan olehnya; Ibnu Majah, 3828; al Hakim, I/491 dan dishahihkannya; dan disetujui oleh adz Dzahabi; Ibnu Hibban, 887h/II/124 dalam Kitab al Ihsan. Al Baihaqi dalam asy Syu’ab, 1105 dan Ibnu Abi Syaibah, 29167h/VI/21; al Bukhari dalam Adabul Mufrad, hlm. 105; Ibnu Jarir dalam tafsirnya, no. 1 3038/11; dari Nu’man bin Basyir. Silahkan lihat Shahih al Jaami’, 3407.

[3] HR Tirmidzi, 3048 dan al Hakim, I/493 dari Ibnu Umar. Shahih al Jaami’, 3409.

[4] HR Ahmad, II/362 dan at Tirmidzi, 3370 dan dihasankannya; al Hakim, I/390 dan disetujui oleh adz Dzahabi dan yang lainnya dari Abu Hurairah. Silahkan lihat Shahih al Jaami’, 5392.

[5] Telah disebutkan takhrijnya.

[6] HR at Tirmidzi, 3373 dan Ibnu Majah, 3727 dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam Shahih at Tirmidzi, 2686.

[7] HR Abu Dawud, 1486 dari Malik bin Yasar; Shahih Abu Dawud, 1318. Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan yang lainnya.

[8] HR ath Thabrani dalam kitab al Kabir, 12234h/11 dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan dari as Saib bin Khallad. Shahih al Jaami’, 4721.

[9] HR at Tirmidzi, 3603 dari Abu Hurairah. Shahih at Tirmidzi, 2853.

[10] HR Abu Dawud, 1481; an Nasaa-i, 44/3; at Tirmidzi, 3477 dan dishahihkannya, dari Fudhalah bin ‘Ubaid. Silahkan lihat Shahih Abu Dawud, 1314.

[11] HR ad Dailami dalam Musnad al Firdaus, III/4791 dari ‘Ali. Dalam hadits lain diriwayatkan dari Anas. Juga dari ‘Ali secara mauquf yang diriwayatkan ath Thabrani di dalam al Ausath, dan al Baihaqi di dalam asy Syu’ab. Berkata al Haitsami di dalam al Majma’, X/160 : “Para perawinya tsiqat”. Silahkan lihat Shahih al Jaami’, 4523.

[12] HR at Tirmidzi, 3479 dan al Hakim, 493/1 dari Abu Hurairah. Lihat Shahih at Tirmidzi, 2766.

[13] HR at Tirmidzi, 3525 dan yang lainnya, dari Anas. Lihat dalam Shahih at Tirmidzi, 2797. Dan diriwayatkan juga dari hadits Rabi’ah.

[14] HR at Tirmidzi, 3382; al Hakim, I/544 dan dishahihkannya, dan disetujui oleh adz Dzahabi dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam Shahih at Tirmidzi, 2693.

[15] HR Muslim, 1015 dari Abu Hurairah.

[16] HR al Bukhari, 6340 dan Muslim, 2735, dari Abu Hurairah.

[17] HR Ahmad, I/172 dan Abu Dawud, 1480, dari Sa’ad. Shahih Abu Dawud, 1313.

Referensi: https://almanhaj.or.id/28638-meraih-doa-mustajab-2.html

28 thoughts on “Doa Mustajab Bagaimana Cara Meraihnya ?

  • Desember 13, 2012 pada 10:41 am
    Permalink

    assalamu’alaikum.

    Wa’alalikumussalam warahmatullah

    ana mau tanya hukumnya berdoa dalam sholat wajib, misalnya saat bersujud, dan sebelum salam, tetapi menggunakan :
    1. jika menggunakan doa2 dalam al quran dgn hajat tertentu , seperti doa minta pendamping hidup dan keluarga yg sholehah (al furqon 74)

    Terimakasih atas komentarnya, dalam sujud dilarang kita membaca ayat alquran, tapi bacalah doa sujud, dan jika ingin berdoa bisa menggunakan lafadz2 doa yang diajarkan oleh rasulullah, Adapun ayat quran digunakan sebagai doa agar mendapat pendamping hidup dan keluarga yg shalihah, maka ini tidak ada contohnya dari rasulullah, sebaiknya ditinggalkan, karena alquran bukan untuk itu tujuannya,

    2. jika menggunakan doa2 dalam bahasa indonesia dan tidak ada dalam al quran,
    bagaimanakah hukum keduaanya, jika doa itu dilafadzkan?

    Semua bacaan shalat itu dilafadzkan, tidak boleh dibaca didalam hati, tidak seperti niat, kalau niat itu didalam hati, tdk boleh dilafadzkan, karena tidak ada tuntunanya dari rasulullah tentang melafadzkan niat shalat, dan niat itu wajib hadir dari awal shalat hingga salam, jika niat dilafadzkan, tentu ini menjadi suatu yang sangat memberatkan dalam shalat kita,
    Sebaiknya menggunakan doa2 yang sudah rasulullah ajarkan, akan tetapi jika tidak bisa, boleh menggunakan bahasa sendiri, dan kita terus berusaha utk menghafalkan doa2 yg diajarkan oleh rasulullah,
    Ingat, dalam melafadkan doa atau bacaan shalat, jika kita shalat berjamaah, maka suaranya tidak boleh terdengar oleh makmum disebelahnya, tapi cukup terdengar oleh kita sendiri saja, dan bukan di dalam hati, tapi dilafadzkan

    terimakasih.

    sama-sama

    Balas
  • Desember 14, 2012 pada 12:52 am
    Permalink

    “Seorang hamba berada paling dekat dengan Rabb-nya ialah ketika ia sedang bersujud. Maka perbanyaklah berdoa ketika itu”.
    maka maksudnya apakah yg diperbanyak itu doa sujud sendiri ato bolehkah dalam sujud berdoa dalam urusan pribadi jika dalam bahasa sendiri?

    trimakasih atas komentarnya mas heramawan
    Kita boleh berdoa ketika sujud, tentunya setelah membaca doa sujud, dan lebih utama jika yang dibaca adalah doa2 yg rasulullah ajarkan (dgn lafadz arab) , jika tdk bisa, blh dgn mnggunakan bhs sndiri

    Balas
  • Desember 14, 2012 pada 3:32 am
    Permalink

    assalamu’alaikum,ana copy ya biar dapet manfaat jg dr tulisan ini n tulisan2 yg lain jg

    silahkan akhi, jazakallahu khairan

    Balas
  • Januari 3, 2013 pada 6:46 am
    Permalink

    mohon ijin copy

    silahkan

    Balas
  • Oktober 5, 2013 pada 5:31 pm
    Permalink

    “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”,
    Admn Kalau Setelah selesai Sholat 5 Waktu Terus Berdzikir Dilanjutkan Berdoa Apa Yang Kita Inginkan Hukumnya Boleh Atau Tidak….?

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Boleh saja, tapi jangan dirutinkan, karena Rasulullah juga tidak melakukan demikian, merutinkan doa setelah selesai shalat 5 waktu,. karena Rasulullah setelah selesai shalat 5 waktu melakukan dzikir setelah shalat, setelah itu beliau tidak berdoa,
    Sebaik-baik contoh tentu apa yang dicontohkan oleh rasulullah, jika rasulullah tidak melakukannya, maka kita juga tidak melakukannya,

    Balas
    • Oktober 7, 2013 pada 2:39 am
      Permalink

      Admin Terima Kasih Atas Penjelasannya Semoga Allah Membalas Kebaikan Anda…..
      Aaaminnn…..

      Amiin,.

      Jazakallahu khairan atas suportnya,

      Balas
      • Desember 31, 2016 pada 5:08 pm
        Permalink

        Bismillah walhamdulillah ,

        Syukron ya akhii , semua artikelnya sangat bagus dan ilmiah ,

        semoga banyak orang yg mengambil manfaat setiap artikel yg akhii tulis ,

        semoga Alloh senantiasa memberikan taufiq hidayah untuk kita , dan untuk saudara saudara kita yg belum mengenal sunnah , dengan membaca artikel artikel yg mas admin posting, semoga mereka selangkah demi selangkah mereka mengenal sunnah dan mengenal bid’ah , sehingga mereka tidak beramal melainkan dengan amalan sunnah , yg ada tuntunanya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ,

        semoga Admin di beri umur yang panjang tetap istiqomah untuk mengibarkan dakwah sunnah , izin search

        Alhamdulillah,. aamiin,.
        Jazakumullahu khairan atas doa dan suppornya

        Balas
        • Desember 31, 2016 pada 10:21 pm
          Permalink

          Admin izin untuk share artikelnya , jazaakallahu khairan

          Silahkan, jazakumullahu khairan

          Balas
    • Januari 12, 2016 pada 10:24 am
      Permalink

      Assalamualaikum..

      Wa’alaikumussalam warahmatullah

      admin saya ingin bertanya sesuatu yang mengganjal dhati saya
      memang saat beribada kita wajib berpedoman pada rasulullah, namun yg saya kurang pahami adalah kenapa kita tidak boleh sering berdoa stelah shalat fardhu?
      saya bertanya karena kita memang umat rasulullah tpi kita bukan rasul, hati kami dan bahkan mungkin hati admin jga tidak sekuat hati rasul.
      kita umat manusia biasa yang hnya mengharap ridho allah, dan dengan berpegang tersebut kita memohon kepada allah, karna allah maha mendengar bkan begitu kan admin.

      Terimakasih,.
      Nabi kita adalah Rasulullah, Muhammad,.
      Beliau setelah selesai shalat fardhu, tidak berdoa atau memimpin doa, tapi beliau cuma berdzikir, setelah dzikir beliau tidak berdoa,.
      Kenapa kok setelah shalat fardhu kok cuma baca dzikir saja?
      Bukankah dengan berdoa itu akan lebih baik?
      Ibadah itu, ikut contoh Rasulullah,.
      Rasulullah setelah selesai shalat fardhu, beliau berdzikir,.
      Setelah berdzikir, beliau tidak memimpin doa,.
      Adakah doa yang lebih baik selain diampuninya dosa-dosa walaupun sebanyak buih di lautan?
      Salah satu manfaat dzikir setelah shalat adalah…
      kesalahannya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.”
      Tentu jika dzikir dan caranya sesuai dengan yang rasulullah ajarkan,. seperti apakah? baca disini

      dan saya ingin bertanya apakah ada hukum yg membuat hati seorang muslim lainnya menjadi bimbang?
      karna setelah bnyak membaca artikel admin tmbul rsa tersebut dhati saya.
      bkan berburuk sangka, tpi diantara bnyak agama islam yang baru akan muncul apakah admin diantaranya?

      Hukum yang datang dari islam, dari Allah, itu tidak akan membuat hati bimbang, justru akan semakin menenangkan hati kita,.
      Coba silahkan anda sebutkan hukum yang membuat hati jadi bimbang, mungkin anda salah memahami, sehingga harus dijelaskan biar tidak salah,. silahkan sebutkan dulu mas,.

      Perlu diingat juga,
      Seluruh amal ibadah yang kita lakukan itu juga adalah doa, doa ibadah namanya,

      Balas
  • Oktober 7, 2013 pada 4:05 am
    Permalink

    “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”,
    Admin : Adab Berdoa Yang Baik Menurut Sunnah Rosul Selain Dalam Keadaan Sujud Apa Juga Boleh Dengan Mengadahkan Ke 2 Tangan Dan Kepala Menghadap Ke Atas…Setelah Selesai Sholat Malam…

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Kalau setelah shalat malam boleh,.

    Balas
  • Oktober 12, 2013 pada 12:11 pm
    Permalink

    “Assalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh”,subhanallah terima kasih admin penjelasannya,

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    mudah2an bermanfaat,

    Balas
  • Januari 10, 2014 pada 1:19 am
    Permalink

    assalamu’alaikum warahmatullah

    saya mau nanya, salah satu waktu yg mustajab untuk berdo’a adlh ketika sujud dlm sholat, namun saya baca di artikel ini http://www.konsultasisyariah.com/memperlama-sujud-ketika-shalat-jamaah/ memperlama sujud trakhir itu tdk benar,

    tiap sujud terakhir dlm sholat, saya selalu berdo’a dan secara otomatis akan memperlama sujud saya, bagaimana hukumnya itu ustadz? syukron

    wasalamu’alaikum warahmatullah

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    dalam artikel diatas itu tentang imam yang memimpin shalat berjamaah, maka harus memikirkan makmumnya, bacaan dalam shalatpun harus memperhatikan kondisi makmum juga, berbeda jika sedang shalat sendiri, misalkan shalat sunnah,shalat malam,

    Jadi ketika anda shalat sendirian, silahkan saja berdoa dikala sujud terakhir,

    Balas
    • Januari 10, 2014 pada 8:16 am
      Permalink

      ada artikel ttg tatacara berdo’a tdk? apakh hrus brwudhu dulu, apkh hrus dilafadzkn ato didlm hati aja, boleh tdk brdo’a sambil duduk,berdiri,berbaring (pd kondisi tertentu, misalnya hujan, antra adzan dan iqomah dll)

      silahkan baca artikel ini

      Balas
    • April 5, 2016 pada 12:29 am
      Permalink

      Assalamualaikum.
      saya bingung jika ingin berdoa dalam sujud, bagaimana mengambil kesempatan berdoa jika sholatnya berjamaah dan kita sebagai makmum.
      trimakasih.
      Wassalamualaikum.

      Wa’alaikumussalam warahmatullah
      Ketika shalat berjamaah kewajiban makmum mengikuti imam,
      Jika tidak sempat berdoa saat sujud ketika berjamaah, masih banyak kesempatan berdoa saat sujud ketika anda melakukan shalat-shalat sunnah

      Balas
  • Agustus 18, 2014 pada 8:25 am
    Permalink

    Mohon izin dan kerelaannya untuk menyalin artikel yang saya butuhkan .terimakasih

    silahkan mas Fauzan, jazakumullahu khairan,.

    Balas
  • Maret 10, 2015 pada 2:22 pm
    Permalink

    assalamu’alaikum

    berarti seperti kirim doa buat orang meninggl serpti baca illa hadril nabi muhammad, khususon ahli kubur dan seterusnya tidak ada dalam ajaran rosulullah.sedangkan keluarga sini tiap sebulan 1x mengadakan ;engajian yg nantinya kirim fadillah sepwrti itu.mohon penjelasannya dan dalilnya.

    saya juga pernah dengar ceramah dri org hindu yg masuk islam bahawa acara 7 hari mendak pisan mendak pindo adalah tradisi hindu….mohon penjelasannya

    assalamu’alaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Terimakasih mas dwi,.
    Betul, bacaan seperti itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah,.
    Apakah amalan tersebut diterima sebagai amalan ibadah?
    Tidak, sebab syarat diterimanya amalan ibadah itu salah satu syaratnya adalah harus mengikuti contoh rasulullah, silahkan baca disini ulasannya

    Dan memang benar ritual tahlilan itu diadopsi dari ajaran agama hindu, pak kyai idrus ramli sendiri mengakuinya, silahkan simak di sini

    Balas
  • Maret 14, 2015 pada 12:55 pm
    Permalink

    http://deleted/07/tanya-jawab-habib-mundzir-vs-wahabi.html?m=1

    bagaimana menurut mas…

    jawaban dari sang habib super ngawur,.
    saya pakai kata-katanya dia ” Saudaraku yang kumuliakan, hal itu merupakan pendapat orang-orang yang kalap dan gerasa-gerusu tanpa ilmu,

    Dalil-dalil yang dia utarakan digunakan tidak pada tempatnya,. contoh seperti hadits aisyah :

    عن عائشة أن رجلا أتى النبي صلى الله عليه وسلم فقال ثم يا رسول الله إن أمي افتلتت نفسها ولم توص وأظنها لو تكلمت تصدقت أفلها أجر إن تصدقت عنها قال نعم

    “Dari Aisyah Ra. bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada Nabi Saw. seraya berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya?” Rasul Saw. menjawab: “Boleh”. (Shahih Muslim hadits no.1004).

    وفي هذا الحديث أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها وهو كذلك باجماع العلماء وكذا أجمعوا على وصول الدعاء

    “Dan dalam hadits ini (hadits riwayat Shahih Muslim di atas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma’ (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa-doa.” (Syarh Imam an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 halaman 90).

    Lalu lihat pak habib menjelaskan hadits diata >>>>

    Maka bila keluarga rumah duka menyediakan makanan dengan maksud bersedekah maka hal itu sunnah, apalagi bila diniatkan pahala sedekahnya untuk mayyit, demikian kebanyakan orang-orang yang kematian, mereka menjamu tamu-tamu dengan sedekah yang pahalanya untuk si mayyit, maka hal ini sunnah.

    Ini adalah penjelasan yg tidak nyambung,. Jaka sembung bawa combro,. ngga nyambung bro,. hadits diatas ga ada hubungannya dengan ritual tahlilan,.

    Balas
  • September 19, 2015 pada 12:59 pm
    Permalink

    Apakah salat bisa di kabulkan kalau pake bahasa indonesia

    Kalau bacaan shalatnya diganti bahasa indonesia, maka shalatnya tidak sah, dan itu adalah perbuatan bidah,.

    Balas
  • Juni 3, 2016 pada 10:51 am
    Permalink

    assalamu’alaikum warahmatullah

    pak adakah hadist atau keterangan tentang seorang ibu itu lebih berhak dari pada istrinya

    trims

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata.

    جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ : أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ،قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ

    “Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,

    ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’

    Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’

    Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’

    Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’,

    Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,

    ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “

    [Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

    Read more https://aslibumiayu.net/ibumu-ibumu-ibumu-wahai-suami-ingat-posisi-ibumu-wahai-istri-ingat-posisimu/

    Balas
  • Oktober 8, 2016 pada 6:42 pm
    Permalink

    Assalamualaikum

    yg ingin sy tanyakan. Yg pernah sy baca, tdk ada dalil memperlama sujud terakhir.

    Nah kalo kita ingin berdoa saat sujud, itu di sujud keberapa??

    Sy baca antara gerakan sholat yg satu dg yg lain lamanya hmpir sama, maka itu tidak diperkenankan memperlama sujud terakhir.

    Jadi kalo sy punya hajat ingin minta sama Allah dalam sujud bagaimana caranya??

    Krn sujud juga salah satu wkt mustajab dalam berdoa.

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,

    Tidak ada dalil memperlama sujud terakhir untuk berdoa,

    Wajar saja, sama seperti sujud-sujud sebelumnya, dan anda silahkan berdoa di sujud2 tersebut,

    Tempat berdoa bisa di saat sujud, bisa pula di sebelum salam,

    Balas
    • Oktober 9, 2016 pada 3:21 am
      Permalink

      Pertanyaan sy di artikel sebelumnya blm terjawab. Tentang bagaimana cara berdoa setelah tahajjud/dhuha?
      apakah setelah salam langsung mengangkat tangan?
      atau bagaimana? Soalnya seperti jawaban sebelumnya kita tidak diperkenankan dzikir setelah tahajjud/dhuha.

      Langsung berdoa saja, dengan mengangkat tangan

      Balas
  • Oktober 26, 2016 pada 9:55 am
    Permalink

    Assalamu’alaikum , blog yg bagus semoga bermanfaat bagi semua umat yg ingin perdalam agama islam menurut Quran dan sunnah ..salam kenal admin, saya selalu ikuti blog antum dgn tujuan ingin belajar islam yg sebenar benarnya .. apakah ada no hp yg dapat di hub mkasih

    Wa’alaikumussalam warahmatullah
    Alhamdulillah, mudah2an bermanfaat,
    Silahkan hadiri taklim yang diisi oleh ustadz yang mendakwahkan Alquran dan Sunnah menurut pemahaman sahabat yang ada di dekat tempat anda, silahkan sebutkan nama kota tempat anda tinggal , insya Allah akan saya infokan tempat taklim terdekat

    Balas
  • September 26, 2017 pada 12:58 pm
    Permalink

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

    Terimakasih semoga dengan pengetahuan yg admin bagikan, dapat mencerahkan umat Islam yg kurang paham seperti saya, Alhamdulillah berkat share dari admin saya jadi lebih terbuka wawasan ttg islam

    Wa’alaikumussalamwarahmatullaahi wabarakatuh,

    Alhamdulillah, mudah2an bisa istiqamah

    Balas
  • Desember 20, 2017 pada 12:28 pm
    Permalink

    Assalamu’alaikum…
    Dr artikel ini dan yg komen saya baru tau jika ada aturan2 saat berdoa.
    slama ini saya setelah tahajud/dhuha lnjut berdzikir kemudian berdoa.
    Knapa setelah sholat sunah tsb tdk diperkenankan berdzikir?
    Saya jg baru tau bahwa jika setelah sholat fardhu tdk dirutinkan berdoa.
    Alasannya apa ya agar saya lebih paham lagi…

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Alasannya karena tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh NABI,
    Dalam beribadah kita WAJIB ikut contoh nabi , bukan beribadah sesuai selera sendiri atau tatacara sendiri,.

    Syarat diterimanya ibadah itu ada DUA, silahkan baca di sini

    Balas
  • Januari 20, 2018 pada 8:32 pm
    Permalink

    assalamualaikum .
    mau tanyak gimana cara agar kita bisa kembali ke jalan yg benar, karena saya saat ini punyak pacar dan itu yg menghambat saya untuk kembali ke jalan yg benar. tapi saya tau banget pacar saya orang yg baik dalam hatinya, gimana saran admin?

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Perlu anda ketahui, pacaran itu haram hukumnya.
    Wanita yang mau dipacari itu adalah wanita yang tidak menjaga harga dirinya, wanita murahan, sehingga laki-laki yang kelak menjadi suaminya itu mendapatkan sisa, bekas dipacarin laki-laki entah berapa banyak,

    Laki-laki yang mau memacari wanita , itu juga laki2 yang tidak bertanggungjawab,
    Laki2 yang baik tidak akan berani memacari wanita, karena pacaran itu perbuatan hina, bahkan kadang lebih hina dari pelacur,

    Pacar dibawa pergi tidak ada tarifnya, pelacur dibawa pergi ada tarifnya,

    Pelacur diajak zina bayar, bahkan mahal bayarannya, eh pacar diajak zina gratis, murah..

    Maka, bertaubatlah dari pacaran, jaga diri anda, jadikan laki-laki yang pertamakali bisa menjamah anda itu adalah suami anda,..

    Bagaimana cara taubat dari pacaran, silahkan baca di postingan ini

    Balas
  • Februari 4, 2018 pada 10:38 pm
    Permalink

    assalamualaikum..
    saya mau tanya.. setiap sholat dan di sujud terakhir saya selalu berdoa menggunakan bahasa indonesia, apakah sholat saya sah atau tidak?

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,.
    Berdoa boleh menggunakan bahasa indonesia, namun tetap membaca dzikir shalat saat sujud dengan bacaan yang sdh nabi ajarkan, tidak boleh diganti dengan bahasa indonesia, seperti bacaan dzikir shalat : subhaana rabbiyal a’la, ini tidak boleh diganti dengan bahasa indonesia, adapun doa, tentu kita yang lebih tahu apa doa yang kita inginkan, jadi boleh menggunakan bahasa masing-masing,

    Balas
  • Juli 1, 2018 pada 9:57 am
    Permalink

    Mas admin saya mau tanya , berarti ketika kita shalat tahajud/dhuha kita langsung berdoa saja ? Tidak usah berdzikir dulu ? Terimakasih

    IYA

    Balas
  • Januari 14, 2020 pada 8:11 am
    Permalink

    Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *