Kalau Gitu Allah Punya Tempat Dong,.. Betulkan Demikian? Baca Penjelasannya Agar Tidak Bingung,.

Di Manakah Allah, Syubhat Allah Ada Tanpa Tempat


syubhat tentang istiwanya AllahSegala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Syubhat zaman kuno masih saja dimunculkan oleh orang yang hidup di abad ke-21. Demikianlah syubhat yang muncul saat ini apalagi digembar-gemborkan di dunia maya yang sedikit sekali yang mengcounternya. Sebagian syubhatnya adalah kalau kita menetapkan Allah di atas langit, maka mereka menyanggah, “Kalau gitu Allah punya tempat dong!” Gitu ujar mereka.

Kalau saudara lihat tulisan berikut ini akan jelaskan syubhat kuno yang dimunculkan oleh mereka. Syubhat ini sudah disinggung oleh ulama masa silam seperti Al Karmani. Semoga tulisan ini semakin menarik untuk dikaji.

 

Muhammad bin Aslam Ath Thusi[1]

قال الحاكم في ترجمته حدثنا يحيى العنبري حدثنا أحمد بن سلمة حدثنا محمد بن أسلم قال قال لي عبد الله بن طاهر بلغني أنك لا ترفع رأسك إلى السماء فقلت ولم وهل أرجو الخير إلا ممن هو في السماء

Al Hakim dalam biografinya mengatakan, Yahya Al ‘Anbari menceritakan pada kami, Ahmad bin Salamah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Aslam menceritakan kepada kami, beliau berkata, “’Abdullah bin Thohir berkata padaku,

“Telah sampai padaku berita bahwa engkau enggan mengangkat kepalamu ke arah langit.”

Muhammad bin Aslam menjawab,

“Tidak demikian. Bukankah aku selalu mengharap kebaikan dari Rabb yang berada di atas langit?”[2]

‘Abdul Wahhab Al Warroq[3]

حدث عبد الوهاب بن عبد الحكيم الوراق بقول ابن عباس ما بين السماء السابعة إلى كرسيه سبعة آلاف نور وهو فوق ذلك  ثم قال عبد الوهاب من زعم أن الله ههنا فهو جهمي خبيث إن الله عزوجل فوق العرش وعلمه محيط بالدنيا والآخرة

‘Abdul Wahhab bin ‘Abdil Hakim Al Warroq menceritakan perkataan Ibnu ‘Abbas,

“Di antara langit yang tujuh dan kursi-Nya terdapat 7000 cahaya. Sedangkan Allah berada di atas itu semua.”

Kemudian ‘Abdul Wahhab berkata,

“Barangsiapa yang mengklaim bahwa Allah itu di sini (di muka bumi ini), maka Dialah Jahmiyah yang begitu jelek. Allah ‘azza wa jalla  berada di atas ‘Arsy, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu di dunia dan akhirat.”

Adz Dzahabi menceritakan, bahwa pernah ditanya pada Imam Ahmad bin Hambal, “Alim mana lagi yang jadi tempat bertanya setelah engkau?” Lantas Imam Ahmad menjawab, “Bertanyalah pada ‘Abdul Wahhab bin Al Warroq”. Beliau pun banyak memujinya. [4]

Pelajaran penting:

Dari perkataan ‘Abdul Wahab Al Warroq ini dapat kita melihat bahwa Allah bukan berada di muka bumi ini, namun Allah berada di atas ‘Arsy. Barangsiapa yang meyakini Allahh di muka bumi ini, dialah pengadopsi paham Jahmiyah yang sesat.

Harb Al Karmaniy[5]

قال عبد الرحمن بن محمد الحنظلي الحافظ أخبرني حرب بن إسماعيل الكرماني فيما كتب إلي أن الجهمية أعداء الله وهم الذين يزعمون أن القرآن مخلوق وأن الله لم يكلم موسى ولا يرى في الآخرة ولا يعرف لله مكان وليس على عرش ولا كرسي وهم كفار فأحذرهم

‘Abdurrahman bin Muhammad Al Hanzholi Al Hafizh berkata, Harb bin Isma’il Al Karmani menceritakan padaku terhadap apa yang ia tulis padaku,

“Sesungguhnya Jahmiyah benar-benar musuh Allah. Mereka mengklaim bahwa Al Qur’an itu makhluk. Allah tidak berbicara dengan Musa dan juga tidak dilihat di akhirat.

Mereka sungguh tidak  tahu tempat Allah di mana, bukan di atas ‘Arsy, bukan pula di atas kursi-Nya.

Mereka sungguh orang kafir. Waspadalah terhadap pemikiran sesat mereka.”

Adz Dzahabi mengatakan bahwa Harb Al Karmani adalah seorang ulama besar di daerah Karman di zamannya. Ia mengambil ilmu dari Ahmad dan Ishaq.[6]

Pelajaran penting:

Penisbatan tempat bagi Allah tidaklah ada petunjuknya dari Allah dan Rasul-Nya, tidak pula ditunjukkan oleh perkataan sahabat dan selainnya. Yang sepantasnya adalah kita tidak menyatakan Allah memiliki tempat agar tidak membuat orang salah sangka. Namun yang dimaksud dari perkataan di atas adalah penjelasan Al Karmani selanjutnya, “Mereka sungguh tidak  tahu tempat Allah di mana, bukan di atas ‘Arsy, bukan pula di atas kursi-Nya”.[7]

‘Utsman bin Sa’id Ad Darimi Al Hafizh[8]

قال عثمان الدارمي في كتاب النقض على بشر المريسي وهو مجلد سمعناه من أبي حفص بن القواس فقال قد إتفقت الكلمة من المسلمين أن الله فوق عرشه فوق سمواته وقال أيضا إن الله تعالى فوق عرشه يعلم ويسمع من فوق العرش لا تخفى عليه خافية من خلقه ولا يحجبهم عنه شيء

‘Utsman Ad Darimi berkata dalam kitabnya “An Naqdu ‘ala basyr Al Marisi” dan kitab tersebut sudah berjilid, kami mendengarnya dari Abu Hafsh bin Al Qowus, ia berkata,

“Para ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa Allah berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit. ”

Beliau pun berkata, “Allah berada di atas ‘Arsy-Nya. Namun Allah Maha Mengetahui dan Maha Mendengar (segala sesuatu) dari atas ‘Arsy-Nya, tidak ada satu pun makhluk yang samar bagi Allah, dan tidak ada sesuatu pun yang terhalangi dari-Nya.”[9]

Pelajaran penting:

Dari perkataan ‘Utsman Ad Darimi di sini kita dapatkan lagi satu klaim ulama yang menyatakan bahwa Allah di atas ‘Arsy-Nya adalah ijma’ (kesepakatan) para ulama. Sebagaimana klaim ijma’ ini telah kita temukan pada perkataan Ishaq bin Rohuwyah, Qutaibah, dan Abu Zur’ah Ar Rozi. Lantas masihkah ijma’ ini dibatalkan hanya dengan logika yang dangkal?! Renungkanlah!

Abu Muhammad Ad Darimi, penulis kitab Sunan Ad Darimi[10]

Adz Dzahabi mengatakan,

وممن لا يتأول ويؤمن بالصفات وبالعلو في ذلك الوقت الحافظ أبو محمد عبد الله بن عبد الرحمن السمرقندي الدارمي وكتابه ينبيء بذلك

“Di antara ulama yang tidak mentakwil (memalingkan makna) dan benar-benar beriman dengan sifat Allah al ‘Uluw (yaitu Allah berada di ketinggian) saat ini adalah Al Hafizh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman As Samarqindi Ad Darimi. Dalam kitab beliau menjelaskan hal ini.”[11]

Pelajaran penting:

Di antara buktinya adalah Ad Darimi membawakan dalam akhir-akhir kitabnya, “Bab memandang Allah Ta’ala” dan Bab “Kejadian di hari kiamat dan turunnya Rabb”. Ini jelas menunjukkan bahwa beliau meyakini Allah berada di ketinggian dan bukan berada di muka bumi ini sebagaimana klaim orang-orang yang sesat.

Ibnu Qutaibah[12]

قال الإمام العلم أبو محمد عبد الله بن مسلم بن قتيبة الدينوري صاحب التصانيف الشهيرة في كتابه في مختلف الحديث نحن نقول…   وكيف يسوغ لأحد أن يقول إن الله سبحانه بكل مكان على الحلول فيه مع قوله الرحمن على العرش استوى ومع قوله إليه يصعد الكلم الطيب كيف يصعد إليه شيء هو معه وكيف تعرج الملائكة والروح إليه وهي معه

Al Imam Al ‘Alam Abu Muhammad ‘Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Ad Dainuri –penulis kitab yang terkenal yaitu Mukhtalaf Al Hadits- berkata, kami mengatakan, “Bagaimana dibolehkan seseorang mengatakan bahwa Allah ada di setiap tempat (di mana-mana) sampai-sampai bersatu dengan makhluk, padahala Allah Ta’ala berfirman,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah yang menetap tinggi di atas ‘Arsy .” (QS. Thoha : 5). Dan Allah Ta’ala juga berfirman,

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ

Naik kepada Allah kalimat yang thoyib” (QS. Fathir: 10). Bagaimana mungkin dikatakan bahwa sesuatu naik kepada Allah sedangkan Allah dikatakan di mana-mana?! Bagaimana mungkin pula dikatakan bahwa Malaikat dan Ar Ruh (Jibril) naik kepada-Nya lalu dikatakan bahwa Allah bersama makhluk-Nya (di muka bumi)?!

Ibnu Qutaibah kembali mengatakan,

قال ولو أن هؤلاء رجعوا إلى فطرتهم وما ركبت عليه ذواتهم من معرفة الخالق لعلموا أن الله عزوجل هو العلي وهو الأعلى وأن الأيدي ترفع بالدعاء إليه والأمم كلها عجميها وعربيها تقول إن الله في السماء ما تركت على فطرها

“Seandainya orang-orang (yang meyakini Allah ada di mana-mana) kembali pada fitroh mereka dalam mengenal Sang Kholiq, sudah barang tentu mereka akan mengetahui bahwa Allah Maha Tinggi, berada di ketinggian. Buktinya adalah ketika berdo’a tangan diangkat ke atas. Bahkan seluruh umat baik non Arab maupun Arab meyakini bahwa Allah di atas langit, inilah fitroh mereka yang masih bersih.”

Beliau selanjutnya mengatakan,

قال وفي الإنجيل أن المسيح عليه السلام قال للحواريين إن أنتم غفرتم للناس فإن أباكم الذي في السماء يغفر لكم ظلمكم أنظروا إلى الطير فإنهن لا يزرعن ولا يحصدن وأبوكم الذي في السماء هو يرزقهن ومثل هذا في الشواهد كثير قلت قوله أبوكم كانت هذه الكلمة مستعملة في عبارة عيسى والحواريين وفي المائدة وقالت اليهود والنصارى نحن أبناء الله وأحباؤه

“Disebutkan dalam Injil bahwa Al Masih (‘Isa bin Maryam) ‘alaihis salam berkata kepada (murid-muridnya yang setia) Al Hawariyyun, “Jika kalian memaafkan orang lain, sungguh Rabb kalian yang berada di atas langit akan mengampuni kezholiman kalian. Lihatlah pada burung-burung, mereka tidak menanam makanan, Rabb mereka-lah yang berada di langit yang memberi rizki pada mereka.”[13]

Pelajaran penting:

  1. Ibnu Qutaibah ingin menyanggah pendapat yang menganggap bertentangan antara ayat-ayat yang menyatakan Allah di ketinggian, di atas ‘Arsy-Nya dengan ayat-ayat yang menyatakan Allah bersama makhluk-Nya. Kedua ayat ini jelas tidak bertentangan. Allah tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, sedangkan ilmu Allah yang di mana-mana dan bukan Dzat-Nya.
  2. Keberadaan Allah di atas seluruh makhluk-Nya adalah sudah menjadi fitroh manusia. Orang yang berkeyakinan berbeda dari hal ini, itulah yang sungguh aneh, karena ia sendiri yang keluar dari fitrohnya.
  3. Umat sebelum Islam –semacam di masa Nabi Isa- sudah mengakui bahwa Allah berada di atas langit.

Abu ‘Isa At Tirmidzi, Penyusun Kitab Sunan[14]

Ketika Abu ‘Isa At Tirmidzi menyebutkan hadits Abu Hurairah,

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ الصَّدَقَةَ وَيَأْخُذُهَا بِيَمِينِهِ فَيُرَبِّيهَا

Allah menerima sedekah dan mengambilnya dengan tangannya lalu mengembangkannya.”[15]

Abu ‘Isa At Tirmidzi kemudian berkata,

وَقَدْ قَالَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ فِى هَذَا الْحَدِيثِ وَمَا يُشْبِهُ هَذَا مِنَ الرِّوَايَاتِ مِنَ الصِّفَاتِ وَنُزُولِ الرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالُوا قَدْ تَثْبُتُ الرِّوَايَاتُ فِى هَذَا وَيُؤْمَنُ بِهَا وَلاَ يُتَوَهَّمُ وَلاَ يُقَالُ كَيْفَ هَكَذَا رُوِىَ عَنْ مَالِكٍ وَسُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُمْ قَالُوا فِى هَذِهِ الأَحَادِيثِ أَمِرُّوهَا بِلاَ كَيْفٍ. وَهَكَذَا قَوْلُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ.

Tidak sedikit dari ulama yang mengatakan tentang hadits ini dan yang semisalnya yang membicarakan tentang sifat turunnya Rabb tabaroka wa ta’ala setiap malam ke langit dunia. Mereka katakan bahwa riwayat-riwayat semacam ini adalah shahih, mereka mengimaninya, tidak salah paham, dan mereka tidak menanyakan bagaimanakah hakekat dari sifat tersebut. Demikianlah yang diriwayatkan dari Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, ‘Abdullah bin Al Mubarok, mereka katakan bahwa kami mengimaninya tanpa menanyakan bagaimanakah hakekat sifat tersebut. Demikianlah yang dikatakan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

وَأَمَّا الْجَهْمِيَّةُ فَأَنْكَرَتْ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ وَقَالُوا هَذَا تَشْبِيهٌ. وَقَدْ ذَكَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِى غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابِهِ الْيَدَ وَالسَّمْعَ وَالْبَصَرَ فَتَأَوَّلَتِ الْجَهْمِيَّةُ هَذِهِ الآيَاتِ فَفَسَّرُوهَا عَلَى غَيْرِ مَا فَسَّرَ أَهْلُ الْعِلْمِ وَقَالُوا إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَخْلُقْ آدَمَ بِيَدِهِ. وَقَالُوا إِنَّ مَعْنَى الْيَدِ هَا هُنَا الْقُوَّةُ. وَقَالَ إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ. فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ وَلاَ يَقُولُ كَيْفَ وَلاَ يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلاَ كَسَمْعٍ فَهَذَا لاَ يَكُونُ تَشْبِيهًا وَهُوَ كَمَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ).

Adapun Jahmiyah, mereka mengingkari riwayat semacam ini dan mengatakan orang yang menetapkannya sebagai musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).

Ketika Allah Ta’ala menyebutkan di tempat yang lain dalam Al Qur’an, misalnya menyebut tangan, pendengaran dan penglihatan, Jahmiyah pun mentakwil (menyelewengkan) maknanya dan mereka menafsirkannya tanpa mau mengikuti penjelasan para ulama tentang ayat-ayat tersebut.

Jahmiyah malah mengatakan bahwa Allah tidaklah menciptakan Adam dengan tangan-Nya. Jahmiyah katakan bahwa makna tangan adalah quwwah (kekuatan).

Ishaq bin Ibrahim mengatakan bahwa yang dimaksud tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) adalah seperti perkataan tangan Allah seperti atau semisal tangan ini, pendengaran Allah seperti atau semisal pendengaran ini, Jika dikatakan demikian, barulah disebut tasybih.

Namun jika seseorang mengatakan sebagaimana yang Allah Ta’ala katakan bahwa Allah memiliki pendengaran, penglihatan, dan tidak dikatakan hakekatnya seperti apa, tidak dikatakan pula bahwa penglihatan Allah semisal atau seperti ini, maka ini bukanlah tasybih. Menetapkan sifat semacam itu, inilah yang dimaksudkan firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Allah tidak semisal dengan sesuatu pun. Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)[16]

Abu Ja’far Ibnu Abi Syaibah, Ulama Hadits di Negeri Kufah[17]

Al Hafizh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman bin Muhammad bin Abi Syaibah Al ‘Abasi, muhaddits Kufah di masanya, di mana beliau telah menulis tentang masalah ‘Arsy dalam seribu kitab, beliau berkata,

ذكروا أن الجهمية يقولون ليس بين الله وبين خلقه حجاب وأنكروا العرش وأن يكون الله فوقه وقالوا إنه في كل مكان ففسرت العلماء وهومعكم يعني علمه ثم تواترت الأخبار أن الله تعالى خلق العرش فاستوى عليه فهو فوق العرش متخلصا من خلقه بائنا منهم

Jahmiyah berkata bahwa antara Allah dan makhluk-Nya sama sekali tidak ada pembatas. Jahmiyah mengingkari ‘Arsy dan mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy.

Jahmiyah katakan bahwa Allah berada di setiap tempat.

Padahal para ulama menafsirkan ayat (وهومعكم), Allah bersama kalian, yang dimaksud adalah dengan ilmu Allah. Kemudian juga telah ada berbagai berita mutawatir (yang melalui jalan yang amat banyak) bahwa Allah menciptakan ‘Arsy, lalu beristiwa’ (menetap tinggi) di atasnya.

Allah benar-benar di atas ‘Arsy, namun Allah terpisah atau tidak menyatu dengan makhluk-Nya.[18]

Masih ada lagi perkataan ulama lainnya yang hidup di tahun 300-an Hijriyah. Moga Allah mudahkan untuk membahas dalam tulisan selanjutnya.

Semoga sajian ini bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Tulisan sebelumnya tentang di manakah Allah, silakan baca di sini.

Riyadh-KSA, 20 Rabi’ul Awwal 1432 H (23/02/2011)

www.rumaysho.com


[1] Muhammad bin Aslam Ath Thusi meninggal dunia tahun 242 H.

[2] Lihat Al ‘Uluw, hal. 191 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 208-209.

[3] ‘Abdul Wahhab Al Warroq meninggal dunia tahun 250 H.

[4] Lihat Al ‘Uluw, hal. 193 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 212.

[5] Harb Al Karmani meninggal dunia pada tahun 270-an H.

[6] Lihat Al ‘Uluw, hal. 194 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 213.

[7] Demikian dijelaskan oleh Syaikh Al Albani ketika menjelaskan perkataan Al Harb Al Karmani di atas.

[8] ‘Utsman Ad Darimi meninggal tahun 280 H.

[9] Lihat Al ‘Uluw, hal. 194 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 213.

[10] Abu Muhammad Ad Darimi hidup pada tahun 181-255 H.

[11] Lihat Al ‘Uluw, hal. 195 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 214.

[12] Ibnu Qutaibah hidup pada tahun 213-276 H.

[13] Lihat Al ‘Uluw, hal. 196 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 216-217. Catatan: Istilah “abukum” (ayah kalian) untuk menyebut Allah yang digunakan di masa Isa dan sudah tidak berlaku lagi untuk umat Islam. Demikian dijelaskan oleh Adz Dzahabi.

[14] Abu ‘Isa At Tirmidzi hidup antara tahun 209-279 H.

[15] HR. Tirmidzi no. 662. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih.

[16] HR. Tirmidzi no. 662. Lihat Al ‘Uluw, hal. 198 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 218-219.

[17] Ibnu Abi Syaibah meninggal tahun 297 H.

[18] Lihat Al ‘Uluw, hal. 220 dan Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 220-221.

sumber : http://rumaysho.com/aqidah/di-manakah-allah-8-1584

4 thoughts on “Kalau Gitu Allah Punya Tempat Dong,.. Betulkan Demikian? Baca Penjelasannya Agar Tidak Bingung,.

  • April 10, 2014 pada 4:54 am
    Permalink

    assalamu alaikum wr. ana mau nanya ada syubhat di bawah ini :
    Bagaimana tanggapan, tolong admin…atau balas .Barakallahu fikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    wa fiikum baarakallah,

    Apakah perkataan mereka bisa di benarkan….?????

    okey mar kita buktikan,,,,ayat tersebut…yg kami imani…adalah hanya ISTAWAA ‘ALAL ‘ARSY saja,,.kami menyerahkan maknanya kepada Allah dan Rosulnya…kami mengimani sebagaimna datang kalimahNya…tidak seperti kaum anda ,,,menerjemahkannya…itulah sebenar-benarnya ulama para salaf dahulu…

    kalau Allah berada di atas langit dari segi tempat dan arah…

    ternyata aqidah kaum kalian sangat berlawanan,,,antara bagian di atas bumi,,,dan kaum yg berada di bagian bawah bumi,,,belum kau anda yg berada di sebelah barat ,,timur ,utara dan selatan…

    misalkan anda da kami beradadi bagian atas bumi,, lalu kalian menunjuk kearah ats langit,,,

    lalu kaum kalian juga yg di bagian bawah bumi melakukan hal yg demikian,,,

    ternyata menunjuknya keatas itu saling berlawanan,,,

    antara kita di bagian atas dan mereka yg berada di bagian bawah bumi,,,

    belum lagi dengan kaumu yg berada di bagian barat bumi,,timur, selatan dan utara…

    itu yg pertama..

    Sebenarnya perkataan mereka bahwa mereka menyerahkan maknanya kepada Allah dan Rasulnya, itu hanya isapan jempol mereka sendiri, dusta belaka,
    buktinya,.. mereka tidak paham penjelasan Allah dan Rasulnya bahwa Allah istiwa diatas arsy, “ISTAWAA ‘ALAL ‘ARSY” itu bahasa arab, maknanya jelas,. Allah sudah menjelaskan melalui rasulnya,

    Mau bukti bahwa mereka berdusta, katanya menyerahkan artinya pada Allah dan Rasulnya, lihatlah perkataan mereka, ada di komentar diatas, ini saya nukil komentarnya,

    =====kalau Allah berada di atas langit dari segi tempat dan arah…

    ternyata aqidah kaum kalian sangat berlawanan,,,antara bagian di atas bumi,,,dan kaum yg berada di bagian bawah bumi,,,belum kau anda yg berada di sebelah barat ,,timur ,utara dan selatan…======

    Ini sangat lucu, ini penjelasan dari siapa? kok memahami arti Allah istiwa diatas arsy dengan pemahaman yang nyelenehnya??

    Dan lebih parah lagi, dia mengumpamakan dengan kondisi bumi, ada barat,timur,selatan,utara, atas ,bawah,.

    sadarkah dia, Allah yang mengatakan allah bersemayam diatas arsy,. lalu dia mengumpamakan dengan kondisi bumi,.. tidakkah dia sadar, Allah itu tidak serupa dengan makhluknya,.. jadi perumpamaan dia dengan kondisi bumi, ini adalah salah satu bentuk penyerupaan dia tentang Allah, lalu dia membandingkan dengan makhluknya, yaitu bumi,. sadarkah dia??
    Ini adalah salah satu bentuk pelecehan kepada Allah,.

    Karena arah barat, timur, selatan,utara, atas, bawah, itu juga makhluk ciptaan Allah, Allah sangat mampu menyatukan antara timur dan barat,. utara dan selatan, atas dan bawah, karena Allah maha kuasa,.
    Demikian pula ruang dan waktu, itu adalah ciptaan Allah, bagaimana mungkin Allah dilingkupi oleh makhluk ciptaannya, PADAHAL ALLAH YANG MAHA BESAR,..

    Silahkan tanyakan kepada orang yang berpemikiran seperti itu, tanyakan kepada dia, dimanakah letak akal dia, seperti apa bentuknya, apakah dia tahu,. jika dia tidak bisa menunjukkannya, maka apakah dia tersinggung jika dikatakan DIA TIDAK PUNYA AKAL,. ??

    Akal yang ada pada diri dia saja dia ngga paham, apalagi hal yang merupakan pencipta alam semesta ini,. tentu lebih tidak terjangkau oleh akal dia yg dia sendiri ngga paham dimana letaknya dan seperti apa bentuknya,.

    yg kedua,,,Dimana Allah sebelum menciptakan tempat dan arah dan semua makhluk-2NYA..???????

    Anizz Fitriyah 9 April 3:22
    yg mengatakan sepakat ijma ulama salaf dahulu,, Allah bersemayam diatas ‘Arasy itu ,,,hanyalah perkataan dusta atas nama ulama salaf…silah pelototin matanya keharap Ro..antara kitab salafiyyin dan kitab ulama salaf dahulu Imam Abu Hanifah Rohimahullah,,.

    al-ImâmAbu Hanifah berjudul al-Washiyyah. Dalam Kitab berjudul al Washiyyah yang merupakan risalah akidah Ahlussunnah karya Imam agung, Abu Hanifah an Nu’man ibn Tsabit al Kufiyy (w 150 H), beliau menuliskan :
    استوى على العرش من غير أن يكون احتياج إليه واستقرار عليه
    (Artinya; Dia Allah Istawâ atas arsy dari tanpa membutuhkan kepada arsy itu sendiri dan tanpa bertempat di atasnya).

    Namun dalam kitab salafy dihilangkan haraf RO nya satu,,otomatis maknanya jadi berubah total..
    nih buktinya..

    استوى على العرش من غير أن يكون احتياج إليه واستقر عليه

    Maknanya berubah total menjadi: ”Dia Allah Istawâ atas arsy dari tanpa membutuhkan kepada arsy, dan Dia bertempat di atasnya”.

    Silahkan lihat postingan yang terbaru, silahkan dia suruh melototin disini

    Disitu ada rujukan kitabnya para ulama salaf, bahkan imam yang empat juga ada, silahkan lihat sendiri,.

    Saya nukilkan sikap Abu Hanifah untuk menjawab alasan mereka,.
    Sikap Keras Abu Hanifah[1] Terhadap Orang Yang Tidak Tahu Di Manakah Allah

    Imam Abu Hanifah mengatakan dalam Fiqhul Akbar,

    من انكر ان الله تعالى في السماء فقد كفر

    “Barangsiapa yang mengingkari keberadaan Allah di atas langit, maka ia kafir.”[2]

    Dari Abu Muthi’ Al Hakam bin Abdillah Al Balkhiy -pemilik kitab Al Fiqhul Akbar-[3], beliau berkata,

    سألت أبا حنيفة عمن يقول لا أعرف ربي في السماء أو في الأرض فقال قد كفر لأن الله تعالى يقول الرحمن على العرش استوى وعرشه فوق سمواته فقلت إنه يقول أقول على العرش استوى ولكن قال لا يدري العرش في السماء أو في الأرض قال إذا أنكر أنه في السماء فقد كفر رواها صاحب الفاروق بإسناد عن أبي بكر بن نصير بن يحيى عن الحكم

    Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai perkataan seseorang yang menyatakan, “Aku tidak mengetahui di manakah Rabbku, di langit ataukah di bumi?” Imam Abu Hanifah lantas mengatakan, “Orang tersebut telah kafir karena Allah Ta’ala sendiri berfirman,

    الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

    “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”.[4] Dan ‘Arsy-Nya berada di atas langit.” Orang tersebut mengatakan lagi, “Aku berkata bahwa Allah memang menetap di atas ‘Arsy.” Akan tetapi orang ini tidak mengetahui di manakah ‘Arsy, di langit ataukah di bumi. Abu Hanifah lantas mengatakan, “Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir.”[5]

    selengkapnya bisa dibaca link yang diatas

    Balas
  • April 10, 2014 pada 6:23 am
    Permalink

    pendapat wahabi aneh, cuma bisa meng kafirkan aja, ya udah tunggu pas mati aja siapa yang benar, gue jg ga faham agama, tapi meyakini Allah tidak bertempat dan tidak menyerupai makhluk

    terimakasih mas abdullah,.
    tolong sebutkan kata-kata mengkafirkan orang lain tsb disini, silahkan dicopi paste , jika betul, saya akan bertobat, dan menutup blog ini,. mana kata-kata mengkafirkan tsb,.

    Jika anda jujur, dan bukan karena ikut-ikutan seperti tuduhan org yang membenci dakwah salaf, silahkan copi paste disini,.

    Balas
    • April 10, 2014 pada 12:40 pm
      Permalink

      Inilah manusia yang t***l, meyakini Allah tidak bertempat dan tanpa arah itu berdasarkan ayat mana hadits apa????

      Lebih percaya ucapan kyainya, ustadnya, habibnya, dari pada ucapan Allah Ajawajala???

      Kenapa berat sekali menerima ayat Allah yang jelas mengatakan “….Aku ada di atas arsy”, adakah ucapan yang lebih baik dari Kalamullah, sehingga ente meyakininya???

      Adakah petunjuk yang lebih baik dari petunjuk Rasulullah SAW, sehingga ente mengingkari Sabda Nabinya???

      Terus kata-kata “mengkafirkan” itu dapat dari mana???

      Kenapa jadi barang dagangan kata-kata “mengkafirkan” pada gerombolan ente???

      Orang kaya ente tidak usah dikafirkan juga nanti kafir sendiri, tidak usah dimurtadkan juga nanti murtad sendiri.

      Kenapa ente percaya dan yakin banget kalau ente Islamnya lurus????

      Ente beragama Islam apa Katholik yang mengklaim bakal masuk surga meski hidup di dunia sesuka hati???

      Jadi inget ane, pernah ada yang bilang sama ane “buktikan nanti yang masuk surga yang tahlilan apa yang gak tahlilan!!!”

      Ane jawab ajah “Oh, berarti dalam paham ente sama dengan paham Katholik yah, sudah bisa mengklaim masuk surga meski masih berkeliaran di dunia?” Inilah doktrik kyai ente, doktrinnya sama dengan Katholik, Buddha dan Hindu, meskipun gerombolan ente mengaku Islam.

      Sabar mas Eko,. ngga usah kebawa sewot,.. sikapi biasa saja,. kita doakan saja, mudah-mudahan saja mendapat petunjuk dari Allah,.

      Mereka bersikap seperti itu karena mengikuti anjuran gurunya, bukan karena mengikuti anjuran Allah,. padahal Allah sudah menjelaskan semua urusan agama ini, dan rasulullah sudah menyampaikan seluruhnya,.

      janganlah kita menyembah kyai, menyembah habib, menyembah ustadz, atau menyembah ajengan,..

      lho,. gimana caranya menyembah mereka, saya ngga menyembah mereka kok, saya hanya menyembah Allah,.. mungkin ini terucap menyanggah jika mereka dikatakan menyembah kyai,.

      bukan seperti itu maksudnya, menyembah kyai itu bukanlah kita menyembah kyai tersebut, akan tetapi…. silahkan baca disini ulasannya, apa yg dimaksud menyembah kyai tersebut,. silahkan dibaca

      Balas
  • April 10, 2014 pada 8:56 am
    Permalink

    Bagus juga cuplikannya,tapi mengapa dua orang yang mengomentari ini (mas Abdullah dan Abu Iqbal) malah heran?

    yang terheran-heran itu cuma mas abdullah, adapun abu iqbal hanya minta jawaban terhadap orang yang menyatakan seperti yang ditanyakan,.

    memang orang-orang yang mengedepankan akalnya diatas wahyu, maka akan kebingungan sendiri,.

    mereka akan bingung ketika allah menyatakan punya tangan,

    mungkin mereka akan tambah bingung ketika Allah menyatakan punya betis, Allah punya kaki, bahkan kelak neraka akan penuh setelah Allah memasukan sebelah kakinya, sehingga neraka berkata : “cukup , cukup”.. tambah bingung dia,..

    Sudah diposting tentang Allah mempunyai kaki, silahkan dibaca disini

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *