Dzulqarnain Bin Sanusi Belum Rujuk Dari Jamaah Tahdzir

Bismillâhirrahmânirrahîm

Saya Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi.

Akhi fillah Al-Akh Luqman Ba’abduh dan saudara-saudaraku para dai telah memberikan beberapa kritikan kepadaku, yaitu:

1. Tidak memperingatkan orang-orang awam dari Radio Rodja.

Maka, Saya beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dari perkataan yang telah Saya ucapkan itu.

Yang Saya yakini adalah memperingatkan dari Radio Rodja secara mutlak bagi kalangan umum dan selainnya tanpa perincian, dan Saya telah keliru pada rincian tersebut.

2. Pengulangan pertanyaan tentang Radio Rodja, padahal Syaikh Rabî’ hafizhahullâhtelah memutuskan masalah tersebut.

Saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari menanyakan masalah, yang telah Syaikh Rabî’ putuskan tersebut, kepada Syaikh Muhammad Al-Imam.

3. Perkataan Saya tentang Yazid Jawas bahwa dia adalah seorang Salafy yang guncang.

Maka, Saya memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dari pemutlakan ini karena Yazid Jawas bukanlah seorang Salafy, melainkan seorang mubtadi’.

4. Yang Saya yakini adalah bahwa Al-Hajury merupakan mubtadi’ sesat, sedangkan Syaikh Abdurrahman Mar’iy dan Syaikh Abdullah Mar’iy adalah di antara masyaikhSalafiyyin. Saya beristighfar kepada Allah dari setiap kalimat yang dipahami bahwa Saya menyetujui peng-hizbiyah-an mereka berdua atau salah seorang di antara keduanya.

5. Di dalam ajaran Islam, tidak ada yang dinamakan “hukum karma”. Itulah keyakinan Saya. Adapun ungkapan Saya menyebutkan “karma” dan bahwa hal itu ada, Saya maksudkan berlandaskan penyebutan kebanyakan orang dengan maknanya yang benar dalam kandungan syariat Kita. Hal itu adalah kesalahan dari Saya dalam menggunakan lafazh tersebut, dan Saya memohon ampunan kepada Allah dari kesalahan itu.

6. (Perbuatan) yang Saya lakukan, dengan tidak melaksanakan perkataan Syaikh Al-Walîd Rabî’ –hafizhahullâh-, itu adalah kesalahan dari Saya, dan Saya memohon kepada Allah agar (Allah) memaafkanku.

7. Penyepelean tahdzîr terhadap Jam’iyyah Ihyâ` At-Turâts adalah perkara mungkar. Keyakinan Saya adalah wajibnya men-tahdzîr Jam’iyyah ini. Yang terjadi dari Saya berupa perkataan yang, dari (perkataan) itu, dipahami penyepelean tahdzîrterhadapnya, maka Saya rujuk dari hal tersebut serta beristighfar kepada Allah.

8. Penyifatan terhadap para dai, bahwa mereka hanya perhatian pada satu sudut pembahasan aqidah, yaitu sudut rudûd ‘bantahan’, adalah keliru dan batil. Saya beristighfar kepada Allah dari hal tersebut. Realitanya adalah bahwa mereka memperhatikan seluruh pembahasan aqidah pada pelajaran-pelajaran mereka sesuai dengan kemampuan.

9. Yang tersebut dalam ucapanku di masjid I’tisham berupa penyifatan jalan sebagian orang bahwa mereka berada pada jalan Khawarij dan hizbiyyin dalam membuat lari dari ilmu dan pelajaran para dai, Allah mempersaksikan bahwa Saya tidak memaksudkan para dai dalam hal tersebut, tetapi maksud Saya adalah sebagian orang yang namanya tidak Saya ketahui yang membuat lari dari pelajaran-pelajaran para dai. Saya beristighfar kepada Allah dari pemutlakan ini. Sangkaan Saya kepada saudara-saudara Saya adalah bahwa para Salafiyyin tidak membuat orang lari dari pelajaran-pelajaran para dai.

10. Ucapanku pada (makalah) kalimat syukur untuk Syaikh Rabî’ hafizhahullâh bahwa para dai mengabarkan berita-berita dusta kepada Syaikh Rabî’ dan meremehkan akal mereka, serta ibarat-ibarat yang mengandung kritikan terhadap tahdzîr Syaikh Rabî’ hafizhahullâh wa ra’âhu, demikian pula ucapanku di masjid Al-Muhajirin Wal Anshor bahwa kritikan-kritikan para dai terhadapku adalah dusta atau keliru, merupakan ucapan yang batil. Saya beristighfar kepada Allah dari hal tersebut, dan mereka adalah benar dalam hal tersebut. Saya meminta maaf kepada siapa saja yang Saya telah keliru terhadapnya dari kalangan ulama Kami dan saudara-saudara Kami, para dai.

11. Bahwa Saya menampakkan rujuk di depan Syaikh Rabî’ dan menerima nasihat beliau, demikian pula di sisi Syaikh Hani`, kemudian ucapanku di sisi lain bahwa Saya tidak mengetahui kritikan terhadap Saya dan Saya dizhalimi, adalah batil dan keliru. Saya beristighfar dan bertaubat kepada-Nya dari ucapanku tersebut. Saya berjanji kepada Allah untuk tidak mengulangi hal tersebut.

12. Ucapanku bahwa ikrar para dai: Luqman dan kawan-kawannya, belum bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang mereka terjatuh ke dalamnya pada kejadian jihad Maluku, adalah keliru dan batil, bahkan mereka telah mengumumkan taubat mereka dengan berbagai media.

Saya beristighfar kepada Allah dan meminta maaf kepada mereka, sebagaimana Saya menasihatkan kepada siapa saja yang mencela Al-AkhLuqman, Al-Akh Muhammad As-Sewed, dan ikhwah lainnya dari para dai untuk bertakwa kepada Allah dan berhenti dari celaan tersebut karena hal tersebut adalah bentuk adu domba yang syaithan bersemangat dalam hal itu guna merusak di tengah manusia, menanamkan benih-benih perpecahan, dan merusak hal-hal yang diupayakan oleh para masyaikh dan para ikhwah dalam ishlah di antara mereka.

13. Saya berlepas diri dari tulisan Al-Akh Abdul Barr tentang Al-Akh Luqman yang pada (tulisan) itu ada hukum berlebihan bahwa Al-Akh Luqman adalah politikus dakwah. Demikian pula ucapan lainnya. Sebagaimana, Saya berlepas diri tulisan Al-Akh Abdul Mu’thi Al-Maidany tentang dakwah Salafiyah dan dai-dainya. Karena, tulisan kedua (Al-Akh) tersebut membahayakan dakwah Salafiyah berupa menyelisihi persatuan kalimat dan merupakan sebab perpecahan. Saya memohon kepada Allah agar (Allah) memberi taufik kepada keduanya untuk kebaikan.

14. Sebagaimana, Saya berlepas diri dari nukilan Al-Akh Khaidir -semoga Allah memberi taufik kepadanya- tentang sebagian dai, dan (Al-Akh) Khaidir menyifatkan sebagai orang yang hasad, juga nukilan dari ucapannya tentang Syaikh Rabî’ karena itu adalah ucapan jelek yang mengandung perendahan terhadap Syaikh hafizhahullâh, baik beliau maksudkan maupun tidak beliau maksudkan.

15. Pertanyaanku kepada Syaikh Utsman As-Sâlimy sebagaimana berikut,

“Misalnya sekarang sebagian ikhwan Kita memiliki kebiasaan ke suatu tempat dan mengadakan daurah tentang tahdzîr terhadap Ihyâ` At-Turâts selama dua hari-tiga hari, daurah ringkas yang (di dalamnya) membicarakan Ihyâ` At-Turâts atau Sururiyah saja, hingga ke suatu tempat di Indonesia Timur, padahal mereka sama sekali tidak mengenal Ihyâ` At-Turâts,”

Adalah hal yang batil dan menyelisihi realita karena ikhwan tersebut tidak membatasi pembahasan itu saja dalam daurahdaurah mereka, bahkan mereka menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, mengajarkan manhaj Salafy, dan mengajarkan perkara-perkara syar’iyyah yang beraneka ragam kepada manusia. Demikian pula Indonesia Timur adalah salah satu tempat yang teruji dengan dai-dai Sururiyah dan Jam’iyyahIhyâ` At-Turâts. Maka, Saya beristighfar dan bertaubat kepada-Nya dari ucapanku tersebut dan dari meringankan masalah men-tahdzîr dai Sururiyah dan Ihyâ` At-Turâts.

16. Ucapanku tentang Abdul Ghafur adalah bahwa dia salah seorang ikhwah Salafiyyin yang berjasa dalam menyebarkan nukilan yang menjelaskan keadaan Ihyâ` At-Turâts, Sururiyyin, Halabiyyin, dan semisalnya. Hal itu disyukuri terhadapnya. Saya memohon kepada Allah untuk memberinya taufik dalam membela Salafiyah dan terus mengambil andil dalam penyebaran nukilan yang menyingkap keadaan ahlul bid’ah dan kesesatan.

17. Secara penuh Saya menguatkan kesimpulan jalsah dengan Syaikh Rabî’ yang tersebar di internet dan telah Syaikh Rabî’ sepakati. Sama sekali tidak ada kritikan dari Saya. Sangkaanku kepada ikhwah para dai adalah bahwa mereka tidak menulisnya dengan hawa nafsu. Apa saja yang berasal dari Saya yang menyelisihi hal tersebut maka Saya bertaubat dan rujuk darinya, dan Saya menginginkan persatuan kalimat serta membuka lembaran baru sebagaimana arahan ulama Kita.

18. Yang Saya yakini dan anggap sebagai agama: pernyataan bahwa ulama tidak bersepakat dalam men-tahdzîr Abul Hasan Al-Ma`riby, dan tahdzîr tersebut adalah masalah ijtihadiyah yang tidak diingkari terhadap mukhâlif ‘penyelisih’, adalah batil dan menyelisihi keadaan Ahlus Sunnah yang men-tahdzîr ahlul bid’ah berdasarkan dalil dan argumen tanpa persyaratan kesepakatan dalam hal tersebut. Saya berlepas diri kepada Allah dari ucapan tersebut dan Saya memperingatkan manusia dari jalan yang jelek ini.

19. Ucapanku bahwa ada di antara ikhwan yang dituduh dengan tamyî’, padahal dia mengajar buku-buku aqidah, adalah ucapan yang batil lagi menyelisihi realita. Pengajaran aqidah adalah salah satu ciri yang membedakan Salafiyyun, sedangkan tamyî’ adalah menelantarkan kebenaran dan bergampangan dalam muamalah dengan mukhâlif pada hal yang tidak mencocoki manhaj Salafy. Saya beristighfar dan bertaubat kepada Allah dari ucapanku dan Saya meminta maaf kepada ikhwan dari pemutlakan ini.

20. Saya berlepas diri kepada Allah dari siapa saja yang memujiku secara berlebihan, dan Saya berlepas diri kepada Allah dari hal tersebut, serta Saya tidak menginginkan seorang pun memujiku.

21. Saya berlepas diri dari Ja’far Shalih karena dia telah membuat kaidah-kaidah batil yang menjadi perang terhadap Salafiyyin. Saya men-tahdzîr darinya dan dari ucapan-ucapannya di Facebook dan Blackberry.

Di Antara ucapan-ucapan Ja’far Shalih yang dikritik oleh ikhwah dengan pertanggungjawaban sumber nukilan dan penerjemahannya terhadap Al-Akh Luqman dan kawan-kawan yang bersamanya adalah:

– “Seseorang dinilai salafi atau bukan tidak dilihat hanya dari sikapnya terhadap IT. Pokok-pokok ajaran ahlussunnah seperti yg ada dalam “ushulus sunnah “ Imam Ahmad, misalnya adalah ukuran dalam hal ini. Begitupula yang terdapat dalam “Aqidah Washitiyah “, “Syarhussunnah” dll.”

– Tatkala dikritik oleh salah seorang ikhwah tentang sikap-sikapnya terhadap hizbiyyin, (Jafar Shalih) menjawab, “Kekhawatiranku terhadap orang-orang yang semisal engkau tidak kurang dari kekhawatiranku tentang Ihyâ At-Turâts terhadap keselamatan dakwah Salafiyah.”

– “Kalau mengambil dana IT lantas memanfaatkannya dalam menyebarkan dakwah salaf, itu cerdas namanya.”

– “Mengambil bantuan dari Ihyâ At-Turâts adalah boleh jika tanpa syarat. Syaikh Muqbil meninggal di atas pendapat ini dan tidak rujuk darinya.”

– “Waspada dari Ihyâ At-Turâts adalah waspada dari harta dan manhaj-nya. Apabila seseorang menerima bantuan dari Ihyâ At-Turâts, tetapi dai terus menyebarkan dakwah Salafiyah, membela tauhid dan Sunnah, memerangi syirik dan bid’ah, dan tidak berubah manhaj-nya, Kita tidak mempermasalahkannya. Sebab, kalau dipermasalahkan, maka Kita akan memecah Salafiyyin.”

– “Saya menghormati da’i-da’i yang mentahdzir dari mengambil dana Ihyâ At-Turâts, tetapi Saya tidak bergampangan dalam menuduh orang yang mengambil dana bahwa dia adalah Surury sepanjang orang tersebut berdakwah kepada apa yang didakwahkan. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa sebagian orang menuduh seseorang sebagai Surury hanya sekadar orang tersebut menerima dana dari Ihyâ At-Turâts. Yang lebih jauh dari itu, siapa yang duduk dengan orang yang menerima dana dari Ihyâ At-Turâts dituduh sebagai Surury. Saya heran, mereka itu di atas manhajsiapa?”

– “catatan: sy rabi tidak pernah mentahzir radio, tp beliau hanya ingin persatuan. Coba yg menukil memahami semua perkataan syaikh secara keseluruhan,bukan sepenggal-sepenggal.”

– “InsyaAllah tidak ada yang salah bagi pihak yang mentahdzir Radio kalau memang menurutnya hal itu lebih mendekatkannya dirinya kepada Allah Ta’aala dengan syarat ikhlas dan diatas ilmu. Sebagaimana juga tidak ada yang salah bagi mereka yang menganggap sebaliknya. Bukankah perselisihan dalam masalah Jarh wat Ta’dil serupa dengan perselisihan dalam masalah fikih?! Apa antum mau memaksa orang yang mengatakan shalat jama’ah sunnah muakkadah bahwa berjamaah itu wajib?! Kan tidak? Apalagi dalam perkara Jarh wat Ta’dil yang mana dalil-dalilnya tidak seterang perkara fiqih. Apa ada ayatnya Radio fulan begini…begitu…? atau barangkali ada haditsnya? Kan tidak. Kalau dalam perkara fikih para ulama yang berselisih saja mereka mentolerir ulama yang kontra dengannya, apalagi dalam perkara Jarh wat Ta’dil akhi. Dan seperti itulah aplikasi ulama kita dulu dan sekarang dalam perselisihan pada bab Jarh wat Ta’dil ini.”

-“Maka tepat sekali yang dikatakan Syaikh Mar’i bahwa masalah ini termasuk perkara yang masing-masing pihak melihat dari sudut pandang yang berbeda sehingga hasilnya berbeda pula. Dan ingat apa yang dikatakan Sy Wushabi tentang bidáh memaksa/menigilzam orang lain dalam perkara ijtihadi, mendekatkan yang sepaham menjauhkan yang bersebrangan. Dan sebagian yang mengaku salafy jatuh kedalam bid’ah ini.”

– “Jamaah Tahdzir terus menggembosi dakwah tauhid, berdiri satu barisan dgn iblis2 menjauhkan manusia dari agama Allah.”

– Ketika ditanya tentang Yazid Jawwas dan Firanda, (Ja’far Shalih) menjawab, “Bagi Saya, kalau saya tuduh mereka hizbi, luqman lebih pantas.”

– Dia juga berkata tentang Abu Yahya Badrussalam, penanggung jawab Radio Rodja, bahwa “Ust. Badru Salafy murni.”

– Ucapannya tentang fatwa Al-Lajnah Ad-Dâ`imah terhadap Ali Al-Halaby, “Saya sendiri tidak setuju dengan pemikiran Sy. Ali Hasan yang dikritisi Lajnah, tapi perkara ini bukan alasan untuk berpecah-belah dan bermusuhan.”

– Juga pujian Ja’far Shalih pada ceramah salah seorang da’i radio dan tv Rodja, Dr. Erwandi Tirmidzy, sebagai “Ceramah ilmiah yang jarang ada yang menjelaskannya dengan Bahasa yang mudah.”

– “Radio Rodja dakwahnya jelas kepada tauhid dan sunnah. Hendaknya berhati-hati bagi siapa saja yang menggembosinya karena itu adalah penggembosan terhadap tauhid dan sunnah.”

– “Adapun Radio Rodja hingga saat ini tidak ada hujjah yang cukup untuk menuduh mereka dengan Sururiyah atau melarang manusia dari mendengarkannya. Bahkan, yang tampak bagi Saya adalah kebalikan hal tersebut, bahwa hujjah dalam mendengar dan menyebarkannya sangat kuat, karena dakwahnya adalah dakwah Kita.”

Juga (Ja’far Shalih) menganjurkan untuk mengikuti program-program Radio Rodja dengan ucapannya, “Ayo menuntut ilmu. Siaran langsung Tafsir Surah Al-Kautsar bersama Ustadz Abdullah Zain.”

Ja’far Shalih yang masyhur dalam memuji Radio Rodja dan da’i-da’inya, serta mengajak Salafiyyin untuk mengikutinya. Tetapi, pada keadaan itu, juga dikenal membicarakan sebagian da’i Salafiyyin dan mencela mereka. Kadang dia menggelari mereka Haddadiyah, kadang Jamaah Tahdzir, dan kadang Jamah Ilzam, dan sebagian mereka digelari Amirul Mukminin sebagai istihza`, serta dakwah ini dipimpin oleh gerombolan hizbiyyah.

Ucapan-ucapan (Ja’far Shalih) dibaca oleh orang jauh maupun orang dekat dari kalangan Salafiyyin dan hizbiyyin.

22. Sesungguhnya Saya menulis dan memahami tulisanku dengan kelapangan dada tanpa ada paksaan. Saya mengingatkan manusia agar tidak terjatuh ke dalam kesalahan-kesalahan ini. Semoga Allah membalas kebaikan kepada siapa saja yang membantuku dalam taubat ini. Saya memohon kepada Allah agar menerima dariku.

23. Juga, Saya menegaskan bahwa, ketika menulis (tulisan) ini, Saya memperumpamakan diri sendiri, tidak memperumpamakan orang lain. Saya menegaskan pula bahwa, jika Saya mengulangi kesalahan-kesalahan ini, perkara Saya dikembalikan kepada masyaikh Kami, seperti Syaikh Rabî’ atau Syaikh ‘Ubaid hafizhahumallâh, agar mereka memberi hukum yang layak terhadap Saya.

Allah Jalla wa ‘Alâ menyaksikan bahwa Saya telah bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang telah berlalu. Kesalahan lain apa saja yang Saya terjatuh di dalamnya, maka Saya akan rujuk dari (kesalahan) tersebut. Saya mensyukuri semua pihak yang menunjukkan kesalahanku agar Saya meninggalkan dan bertaubat dari (kesalahan) itu.

Saya mensyukuri Al-Akh Luqman akan semangatnya dalam dakwah Salafiyah. Saya memohon kepada Allah agar mengumpulkan Kami di atas ketaatan dan memberi taufik kepada Kami menuju segala kebaikan dan keshalihan dakwah Salafiyah di Indonesia dan selainnya.

Ditulis oleh

Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi

Rabu, 23 Jumadil Akhir 1435 H

Peringatan:

Penulisannya dengan ikhwah terlaksana bersama Usâmah bin ‘Athâyâ bin ‘Utsman Al-‘Utaiby.

Hendaknya diketahui bahwa tulisan ini berada dalam jalan ishlah dan penyatuan kalimat Salafiyyin di Indonesia. Yang wajib atas (para Salafiyyin) adalah teguh di atas kebenaran, menapaki jalan ulama, dan istiqamah di atas ishlah, serta menjauhi siapa saja yang urusannya hanya menyulut fitnah dan perpecahan di antara Salafiyyin.

Wallâhul muwaffiq

sumber : http://web.archive.org/web/20140625132144/http://dzulqarnain.net/kalimat-rujuk-dan-penjelasan.html

Pernyataan di atas itu sebagai BUKTI bahwa pak dzulqarnain BELUM bertaubat dari jamaah tahdzir.

Bahkan yang katanya sudah rujuk hanya karena dekat dengan dai rodja, atau ngisi bareng dai rodja, seperti pak jafar shalih itupun bukan sebagai pertanda rujuknya, dan ternyata sekarangpun ada keanehan pemikiran terhadap dai tersebut.

Berikut ini Video pak dzulqarnain yang begitu membabibuta dan menaruh kebencian kepada Syaikh Ali hafidzahullahu ta’ala.
Dzulqarnain pun mentahdzir buku “Manhaj Salafus Shalih” yang ditulis oleh Syaikh Ali, dimana buku ini yang menyadarkan salah satu JAMAAH TAHDZIR dari tahdzir serampangan, baca kisahnya di postingan ini

Pak dzulqarnain ini adalah ustadz Jamaah Tahdzir yang belum terbukti tanda rujuknya, dimana beliau juga mengatakan bahwa Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas bukanlah salafi, tapi MUBTADI , pernyataan ustdz dzulqarnain ini bisa di lihat di postingan ini

Kesimpulan dari video di atas 
Persoalannya pada pak Dzulqarnaen mengenai fitnah ini:

1. Menganggap Ulama Lajnah Dai’mah lebih tinggi posisinya dari Syaikh Ali Hasan Al-Halabi padahal Syaikh Ali belajar langsung dari Syaikh Al-Albani lebih dari 20 tahun. Bandingkan dengan tiap ulama yang ada di Lajnah Da’imah.

2. Terlalu memposisikan Lajnah Da’imah dan Gurunya Syaikh Fauzan ucapan dan fatwanya pasti benar padahal kebenaran tetap diukur dengan dalil-dalil al-qur’an dan sunnah, mana yang lebih kuat argumentasi/dalil-dalilnya sebagaimana dipahami salafus shalih.

3. Memposisikan dirinya seakan-akan selevel dengan Syaikh Ali Hasan Al-Halabi padahal dengan guru-guru pak Dzulqarnaen ini pun belum tentu selevel atau minimalnya sama

4. Menganggap bantahan balik terhadap Fatwa Lajnah Dai’mah adalah pelecehan/tidak layak karena tidak menghormati ulama, padahal Syaikh Ali Hasan adalah ulama juga yang dipuji-puji oleh Syaikh Al-Albani namun dicela-cela oleh pak Dzulqarnain ini.

5. Pak Dzulqarnain membela kitab Raf’ul Laimah an Fatwal Lajnah Daimah berdasarkan rekomendasi Lajnah Daimah, padahal kitab yang ditahdzir oleh Lajnah direkomendasikan oleh Syaikh Al-Albani dan sebagian ulama kibar. Jadi secara tidak sengaja, Ustadz Dzulqarnain sesungguhnya telah mengecilkan Syaikh Al-Albani

6. Pak Dzulqarnain memberi kesan terlalu fanatiq pada guru-gurunya dan menyalahkan pendapat-pendapat lain yang berbeda dengan gurunya

7. Pak Dzulqarnain karena taqlid pada fatwa Lajnah Daimah kemudian menutup diri dari kitab-kitab yang ditulis oleh Syaikh Ali Hasan yang telah membantah dan meluruskan kekeliruan Fatwa Lajnah Daimah padahal bantahan Syaikh Ali Hasan seperti halnya gurunya, Syaikh Al-Albani adalah bantahan yang sangat kuat dan tegak di atas dalil-dalil dan perkataan para ulama salaf.

Baca juga FAKTA DUAT JAMAAH TAHDZIR, silahkan baca di sini

Bagaimana dengan dai jamaah tahdzir yang katanya RUJUK ? Jangan mudah percaya, apalagi setelah rujuk dia tidak duduk di majlis ilmu dai yang lurus manhajnya, sehingga hilang atsar masa lalunya,.. tapi malah langsung ngajar, contohnya seperti pak dzulqarnain ini dan dai sejenisnya,..

 

Terms:

Asli bumi ayu com (1), Penyimpangan Ustadz Dzulqarnain Sunusi (1)...

26 thoughts on “Dzulqarnain Bin Sanusi Belum Rujuk Dari Jamaah Tahdzir

  • Januari 21, 2018 pada 10:14 am
    Permalink

    Terjawab sudah syukron admin sudah kasih penjelasannya

    Alhamdulillah

    Balas
  • April 24, 2018 pada 3:34 pm
    Permalink

    Afwan jadi Ustadz Dzulkarnain ini belum rujuk ya ?? Belum terdengar kabar kejelasan taubatnya sampe skrg ??

    Iya, emang belum rujuk dan kasihan ikhwah yang terkelabuhi oleh tampilannya

    Dia masih seperti dulu, menganggap dai-dai yang mndakwahkan manhaj salaf via radio rodja itu tidak jelas manhajnya,

    Balas
  • Maret 13, 2019 pada 8:14 pm
    Permalink

    Hadeh, saya ga tau masalahnya apa. Yang penting bagaimana mengambil ilmu ya dari ustadz dzulqarnain, ustadz yazid, ustadz firanda dan ustadz-ustadz lain yang masih mendakwahkan tauhid dan sunnah.

    Dzulqarnain itu muridnya ust Yazid juga, tapi murid yang durhaka kepada gurunya

    Ustadz Yazid yang mengajari dzulqarnai ilmu musthalah, tapi betapa kurang ajarnya si murid menggelari gurunya dengan sebutan mubtadi, salafi goncang

    Ustadz Yazid sendiri sudah menasehati kita agar tidak mengambil ilmu dari dzulqanain, tidak bekah mngambil ilmu darinya

    Balas
    • September 10, 2019 pada 6:59 pm
      Permalink

      Ustad dzulqarnain itu bukan murid ustadz yazid

      Murid yg durhaka,
      Dulu dia diajar saat masih mondok di degolan,
      Ust Yazid yang ngajari pak dzulqarnain ilmu musthalah,

      Umar sewed juga muridnya ustadz Abdul Hakim Abdat, tapi murid yang durhaka juga

      Balas
  • April 6, 2019 pada 11:23 am
    Permalink

    Bismillah
    Assalamu’alaikum warohmatullah wabarokaatuh
    ‘Afwan ana ingin bertanya, video tersebut tahun berapa ya? Apakah itu video baru? Soalnya teman teman ana banyak yg ngeshare video video beliau, dan ana liat juga akun instagram atas nama beliau banyak menshare video sesuai Alquran dan sunnah. Syukron wa jazaakallah khair

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,
    Sampai hari ini, dia belum rujuk dari mentahdzir gurunya sendiri yaitu ustadz Yazid Abdul qadir jawas,.

    Apa syarat taubat nasuha dari mentahdzir serampangan ?
    apakah dia lupa?

    Tersebarnya video2 ustadz tsb juga salah satunya akibat fitnah medsos, banyak ngartis fb yang mensharenya, menganggap karena casingnya sama lalu share,..

    Padahal dulu dia dibarisan kelompok yg mengharamkan video, sekarang getol banget dakwah dgn sarana video,..

    Nebeng tenar,

    Balas
    • April 23, 2019 pada 10:42 am
      Permalink

      Bantu jawab, video tsb sudah ada sejak tahun lalu. Dan hingga saat ini masih ada di channel beliau dan belum terhapus. Secara tidak langsung ruju’ yg bnyk dianggap orang sangat dipertanyakan

      Memang belum rujuk

      Balas
    • Januari 13, 2020 pada 3:40 am
      Permalink

      Saya tidak fanatik terhadap ustad Dzul. Namun perkataan saudara mengatakan “Padahal dulu dia dibarisan kelompok yg mengharamkan video, sekarang getol banget dakwah dgn sarana video,.. Nebeng tenar”.
      Darimana antum tahu dia cuma nebeng tenar. Sudahkah antum belah dadanya?

      “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berbuat tidak adil.”(QS 5:8)

      Nebeng tenar karena casing sama, seolah2 dzul ini sama satu barisan dengan ustadz-ustadz yang bertebaran video dakwahnya,
      Sehingga kasihan ikhwah yang tidak paham sejarah tentang jamaah tahdzir dan termasuk dzulqarnain yang ikutan sebarisan dengan jamaah tahdzir

      Balas
  • April 6, 2019 pada 9:13 pm
    Permalink

    Bismillah.
    kalau boleh tau siapa saja murid murid ustad Dzulkarnain ya akhi agar ana lebih berhati hati lagi

    Yang jelas ambillah ilmu dari ustadz yang memang gigih mendakwahkan manhaj salaf, bukan ambil ilmu dari jamaah tahdzir atau yang berafiliasi dengannya,

    Balas
    • September 4, 2019 pada 9:41 am
      Permalink

      Assalamualaykum,mau tanya jika beliau mengisi kajian di tempat masjid ana, apa masih boleh ana ngaji di masjid tsb? atau di tinggalkan masjid tsb?

      Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
      Ambillah ilmu dari orang yang dikenal dan dari akaabir, baca ulasannya di sini

      Balas
    • Februari 1, 2020 pada 5:05 pm
      Permalink

      Bismillah
      Apakah ada bukti mutlak bahwa Yazid jawas pernah mengajar di degolan? Dan apakah ada bukti mutlak bahwa Ustadz Dzulqarnain mengambil ilmu langsung dari Yazid jawas???

      Orang yang mengalami jaman-jaman awal dakwah salafiyyah di indonesia pasti tahu,
      Kasihan ikhwah yang tidak paham sejarah, dzulqarnain lahir di tahun 1976

      pak dzulqarnain itu diajari ilmu musthalah oleh ustadz Yazid,

      Pak dzulqarnain juga adalah murid kesayangan dari ust jafar umar thalib,pimpinan pondok degolan yang merupakan adik kelas ustadz Yazid, dan dulu ust Yazid sempat ngajar di degolan sebelum pindah ke bogor

      Balas
  • Mei 30, 2019 pada 10:33 pm
    Permalink

    Soal tuduhan ust dzulqarnain bahwa ust yazid mubtadi’ saya bisa minta linknya khi?
    Soalanya yg ada di artikel antum d atas ndak bisa kebuka.

    Dan apa benar ust dzulqarnain murid ust yazid? Shahih kah? Murid darimana khi?
    Kok ndak ada yg memaklumi demikian…
    Mohon dijelaskan perihal yg kedua ini.

    Itu saya ambil dari arsip web ust tsb,
    Iya dia muridnya saat masih di degolan, jogjakarta,

    Balas
    • Juni 23, 2021 pada 12:07 am
      Permalink

      Apakah admin berani juga mengatakan bahwa Lajnah Daimah adalah kelompok tahzir serampangan sebagaimana gelar yang admin berikan kepada Ustadz Dzulqarnain?

      Berbeda antara sikap ulama lajnah dan dzulqarnain,..

      sedangkan kita tahu bahwa beliau (Ustadz Dzulqarnain) hanya mengikuti dan berpegang pada sikap guru2 beliau yang sebagian besar sebagai anggota Lajnah Daimah terhadap tahziran mereka kepada syaikh ali, seandainya Lajnah Daimah rujuk terhadap tahziran mereka kepada Syaikh ali pasti beliau (Ustadz Dzulqarnain) akan mengikuti guru-guru beliau tersebut akan tetapi Lajnah Daimah belum rujuk terhadap tahziran mereka kepada Syaikh ali sampai sekarang.

      Dzulqarnain mentahdzir mengikuti gurunya yaitu jafar umar thalib, dzulqarnain ini adalah murid kesayangannyaa…
      Banyak yang tidak paham karena tidak tahu sejarah dakwah salafiyah di indonesia dan siapa yang menjadi pencetus tahdzir serampangan ini..
      Yang pertama kali mentahdzir syaikh Ali dengan tuduhan murji’ah di indonesia itu adalah jafar umar thalib, dan waktu itu merupakan tokoh yang dielu-elukan oleh umar sewed, dzulqarnain dan kelompoknya..

      Dan itu justru jauh sebelum ada fatwa lajnah , bahkan sebelum dzulqarnain ke arab sana,

      Saya nukilkan dari ceramah ustadz Yazid tentang jafar umar thalib, dari ceramah tgl 22 agustus 1999 di surabaya

      —- bukan seperti dengan cara yang kita lihat, tahdzirnya sampai dimana-mana, dan pembelaan-pembelaan muridnya ini luar biasa ini, ini sudah masuk kepada hizbi, yah, murid-muridnya membela jafar luar biasa, seolah jafar ini ma’sum tidak punya kesalahan, sampai yang dari madinah, saya nggak masuk akal, dari madinah!! Belajar dengan masyaikh, sampai disini jadi abd!! Membela jafar, lha antum belajar di madinah, jafar kan jahil!!

      Jafar berteman dengan saya dari tahun Sembilan puluh satu, ketika saya di persis bangil, saya kenal jafar ya di persis bangil itu, saya belajar sama abdul qadir hasan, jafar juga belajar disana, jafar belajar, adik kelas saya,

      Cuma kalau jum’at ia datang ke tempatnya Husain alhabsyi, tokohnya syiah, jumat datang ke sana belajar, dengan Husain alhabsyi ini, Saya tidak pernah diajak sekali walhamdulillah dianya tidak ada, dan kita belum tahu waktu itu, kemudian saya lulus, nah saya keluar dari bangil, melanjutkan di pondok pesantren al ikhlas jember, bapak Ahmad Ammar Syarif, jafar keluar tidak lulus dari pesantren persis,

      kemudian saya ke LIPIA lembaga bahasa arab, saya selesai jafar tidak selesai,

      kemudian setelah itu dia disekolahkan oleh ustadz abdul aziz al ammar ke pakistan di abdul a’la almaududi, saya waktu itu dakwah, memang sejak lulus dari pesantren saya sudah dakwah, dimana-mana, ya sama dengan jafar waktu itu, manhajnya ikhwan, ikhwanul muslimin, seperti jafar, sama…

      Kemudian kita tahu sedikit-sedikit dari orang-orang yang pulang dari madinah, beberapa orang yang ada di dewan dakwah, maupun tempat-tempat yang lain, kemudian mengingatkan kita, tapi tidak menjelaskan manhaj atau akidah yang sebenarnya, nah jafar pulang, membawa buku fathul majid, kita kumpul lagi, ketemu lagi, saya dengan jafar di pesantren al irsyad tengaran, nah disana mulai dibaca, yang dibaca kitabnya apa? Ma’alim in thalakatul kubra, abdul hadi al misri assururi, itu yang dibaca, dibaca oleh jafar, berapa kitab …,

      dan waktu itu jafar waktu pulang, takfiri, Suharto dikafirkan, fahd dikafirkan, takfiri, dikatakan hadimul haramain, bukan khaadim, tapi haadim, perusak, dua, dua apa, dua haram, dua baitullah,

      Kemudian ada perubahan, sedikit-demi sedikit, dan perubahan-perubahan itu ada, dan kita memang masih baru, artinya mulai dakwah salafiyah di pesantren alirsyad itu masih baru, kita ajarkan kitab fathul majid, saya di kasih tugas mengajarkan bulughul maram dan lain-lain, tapi kita sama-sama kerjasama waktu itu, kemudian terjadi fitnah lagi dengan yusuf baisa dan yang lainya,

      kemudian kita pecah, keluar, saya ke bogor, jafar ke jogja, dirikan yayasan ihya’usunnah, dan saya masih ngajar waktu itu, setelah itu saya berangkat ke syaikh Muhammad bin shalih alutsaimin, saya pulang, jafar sedang mendirikan pesantren, saya ngajar di sana, jadi anak-anak yang nulis diselebaran itu murid-murid saya, mereka murid-murid saya, murid-murid yang aqq, yang uquq, yang durhaka,

      Dan sebagian dari tengaran itu ada yang berangkat ke madinah, ada yang berangkat ke yaman, murid-murid saya, berangkat ke madinah, berangkat ke yaman, atau berangkat ke tempat yang lain lagi,

      Nah kemudian setelah itu, setelah dari jogja, setahun saya mengajar, nggak efisien saya mengajar, sepekan disana, kemudian pulang, akhirnya saya setelah itu di bogor saja. Kemudian digantikan oleh muhamad umar assewed.
      ========================
      Saya nukilkan sampai di sini saja ceramahnya,
      Kala itu dzulqarnain juga menjadi murid yang diajar oleh ust Yazid,. namun akhirnya menjadi murid yang durhaka, menyebut ustadz Yazid yang merupakan gurunya dia sendiri saat mondok di degolan, digelari dengan gelar yang jelek,.

      Balas
  • Juni 24, 2019 pada 10:45 am
    Permalink

    Mentahdzir sebuah kekeliruan bukan berarti harus saling bermusuhan.
    Orang yg tdk mau di tahdzir berarti sudah merasa dirinya suci terbebas dari kesalahan.
    Tapi jangan juga serampangan dalam hal mentahdzir…

    Apalagi mentahdzir ustadz yg gigih mendakwahkan manhaj salaf, bahkan yang mengajari dirinya saat masih jahil apa itu manhaj,

    Balas
    • April 19, 2020 pada 7:56 am
      Permalink

      Antum seolah olah anti dari mentahdzir sementara antum sendiri mentahdzir ust dzulqarnain

      Antum bilang ust dzulqarnain taqlid kpd lajnah da’imah, sementara antum sendiri taqlid kpd syaikh ali hasan

      Dan pernyataan antum diatas banyak yg tidak berdasarkan fakta akhi, antum banyaknya prasangka doang. apakah antum sudah belah dadanya ust dzulqarnain sehingga antum benar benar tau faktanya?

      Hati hati antum nulis ini, karena Allah akan minta pertanggung jawaban tulisan antum ini akhi.

      Mentahdzir serampangan juga akan dimintai pertanggungjawaban, apalagi tidak bertaubat darinya

      Antum nulis kayak gini apakah antum sudah selevel
      Lajnah da’imah atau seleve syaikh ali hasan?… Apakah antum sudah selevel dg ustadz dzulqarnain atau ust yazid?… Atau antum hanya penuntut ilmmu yg suka bikin kerusakan dan menyulut api permusihan diantara para da’i ahlussunnah?… Tolong jawab akhi level antum dimana?…

      Artikel paling atas itu tulisan pak dzulqarnain, kapan dia rujuk dari apa yang ditulisnya tersebut? Ustadz Yazid hafidzahullah adalah salah satu gurunya dia, dan ini banyak ikhwah yang tidak paham sejarah..

      Trus dia ga sadar level dirinya ketika menyebut ustadz Yazid sebagai mubtadi? menyebut ustadz Yazid sebagai salafi goncang?? padahal siapa yang ngajari pak dzulqarnain ini waktu di pondok degolan sono? jangan durhaka kepada gurunya sendiri,

      Mana bukti pak dzulqarnain rujuk dari mentahdzir gurunya sendiri, sampai sekarang belum ada buktinya, padahal pak dzulqarnain tinggal di pasar minggu, gurunya tinggal di bogor, ga jauh antara pasar minggu dan bogor, menyebut gurunya sendiri sebagai salafi goncang, sebagai mubtadi’
      kasihan para ikhwah yang tidak paham sejarah dakwah salafi di indonesia,.tertipu dengan casing, tidak paham faktanya

      Allahu yahdiinaa wa yahdiikum…

      Aamiin

      Balas
  • September 2, 2019 pada 10:35 am
    Permalink

    Bismillah.

    Ana ingin tahu kenapa para asatidz yang berjalan bersama rodja (beberapa) sudah bersama-sama satu majelis dengan para asatidz yang berjalan bersama ustadz Dzulqarnain?
    seperti ustadz muflih safitra (rodja) dan ustadz Farhah abu furaihah dan ustadz harists abu naufal (berafiliasi dengan ustadz dzulqarnain) saat di banda aceh.. dan bahkan ustadz firanda (yang mentahdzir ustadz dzulqarnain di website-nya) pun bersama 2 ustadz tersebut (saat kajian di bubarkan di aceh)

    Apakah beberapa asatidz yang berjalan bersama rodja sudah islah dengan asatidz yang berjalan bersama ustadz dzulqarnain? dengan konsekwensi para asatidz tersebut telah ruju’ dari pernyataan masing-masing terhadap masing-masing.. wallahu a’lam

    Syukron Jazaakumullah Khayr

    Apakah LUPA syarat taubat nasuha dari jamaah tahdzir?
    LUPA cara taubat nasuha dari menjatuhkan harga diri ustadz yg gigih mendakwahkan dakwah sunnah?
    Padahal tempat tinggalnya sangat dekat, dia tinggal di pasar minggu, ust abd hakim di pasar minggu juga, ustadz Yazid di bogor

    Ngisi barengnya ustadz2 jamaah tahdzir itu bukan berarti tanda dia sudah rujuk

    Balas
  • November 27, 2019 pada 1:15 pm
    Permalink

    Assalamu’alaikum. Saya tdk melihat dlm video diatas bukti bhw ust. Dzulqarnaen men tahdzir ust. Yazid.

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah,
    Dzulqarnain mentahdzir ustadz Yazid dengan menyebutnya sebagai mubtadi, sebagai salafi goncang, ada tulisan pak dzulqarnain tentang hal tersebut, padahal Ustadz Yazid itu adalah gurunya sendiri kala itu, dan dulu belum ada video, belum musim, radio yang mendakwahkan manhaj salaf saja belum ada kala itu,

    Balas
  • Desember 16, 2019 pada 9:29 pm
    Permalink

    Adakah kabar terbaru bahwa ust dzullqarnain sudah tobat

    belum bertobat dari mentahdzir serampangan, mana buktinya,..

    Masih mentahdzir serampangan, menuduh ulama ahlusunnah sebagai murji’ah,

    Balas
  • Januari 31, 2020 pada 6:22 am
    Permalink

    Assalamualaykum..

    apa pendapat anda tentang
    ust. afifuddin (pengisi fawaaed.net)
    bisakan diambil ilmu darinya?
    dan

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah
    Jangan ambil ilmu dari jamaah tahdzir, termasuk dari ustad di atas dan fawaid.net

    Balas
  • Februari 9, 2020 pada 3:28 pm
    Permalink

    Assalamualaikum

    Afwan min mau tanya, apakah mereka itu yang tergabung dalam RII yang katanya radio sunnah juga itu min?

    wa’alakumussalamwarahmatullah,
    Sesama jamaah tahdzir terus berpecah belah dari dulu hingga sekarang, dan salahsatu pecahannya membuat radio2 dan RII itu aplikasi yg isinya radio2 yang berafiliasi pada mereka

    Balas
  • Februari 10, 2020 pada 6:20 pm
    Permalink

    Alhamdulillah..
    Barakallahu fiik

    wafiik baarakallaah

    Balas
  • Maret 20, 2020 pada 2:44 pm
    Permalink

    kl ingin mengetaui bagaimana celaan Tahzir terhadap dakwah salaf yang saat itu media medsos tidak semudah seperti ini , silahkan cari di majalah salafi atau majala as sunnah diantara tahun 1995

    Dan kala itu dzulqarnain berada di kubu kelompok tahdzir serampangan tsb, dan belum bertaubat hingga sekarang terhadap tahdzir serampangannya, bahkan ustadz Yazid yang merupakan gurunya sendiri ditahdzir pula dianggap sebagai salafi goncang, disebut sebagai mubtadi’

    Balas
  • April 12, 2020 pada 5:32 am
    Permalink

    Admin ini akan dihisab
    Bertakwalah kepada Allah.
    Jangan tempatkan dirimu bersama barisan2 yg menggibah.

    Semua juga akan dihisab terhadap apa yang dilakukannya,.
    Sudahkah pak dzulqarnain meminta maaf kepada ustadz Yazid?
    Padahal dia itu muridnya,
    Kasihan banyak ikhwah yang terkecoh, tidak paham sejarah..

    Balas
    • Februari 19, 2021 pada 11:52 pm
      Permalink

      Assalamualaikum

      wa’alaikumussalamwarahmatullahi wabarakatuh

      mau tanya boleh gak ambil ilmu dari KHB/G*zw*Htv, dan ustadz yang ngisi disana?

      maksudnya siapa saja tlg jgn pakai inisial, apa itu G w htv itu?
      ambillah ilmu dari siapa, silahkan baca postingan ini

      Dan saya juga baru tau kalau ustdz dzulqornain murid ustadz yazid, sebelumnya saya sudah tau tentang sejarah persebaran dan perpecahan salafi dari teman saya yang tau seluk beluknya. Terimakasih

      dzulqarnain itu pernah diajar oleh ust yazid,
      tidak ada yg namanya perpecahan salafi, karena salafi itu satu, yang ada adalah mereka menyelisihi manhaj salaf dan terjerumus dalam kubangan hizbiyyah

      Balas
  • Mei 19, 2020 pada 2:12 pm
    Permalink

    Maaf min, antum masuk pada perkara, yang tidak jelas, memposisikan diri penyebar fitnah, padahal belum tentu diantara mereka para ustadz seperti yang antum sangka

    Bagi yg paham sejarah dakwah salafi di indonesia,akan tahu siapa kelompok penebar fitnah terhadap dakwah ini..

    Namun bagi yang tidak paham sejarah, maka salah satunya akan berkomentar seperti itu, dzulqarnain itu salah satu murid ust Yazid, tapi murid yang DURHAKA kepada gurunya sendiri,

    Balas
  • Januari 23, 2021 pada 12:12 am
    Permalink

    MasyaAllah ini fitnah udah bertahun- tahun yg lalu knpa tgl posting November 2020 ??
    Afwan setau ana ustadz Dzulqarnain di degolan, jogjakarta itu belajar di pondok nya Ja’far Umar Thalib.

    Iya memang, dan ust Yazid dulu juga ngajar di degolan dimana ja’far adalah pimpinannya, dzulqarnain menjadi muridnya, namun betapa kurang adab kepada gurunya sendiri menggelari dengan gelar yg buruk, dan belum ditaubati hingga sekarang, padahal dzulqarnain tinggal di pasar minggu , tidak jauh dari bogor ,

    Perlu antum ketahui, jafar umar thalib itu adalah adik kelasnya ust Yazid, dan jafar pula yang pertama kali mentahdzir secara serampangan, dan diikuti oleh murid2nya, diantaranya oleh dzulqarnain yg dulu sebarisan dengan umar sewed dan sejenisnya, lalu berpecahbelahlah sesama mereka, sehingga dzulqarnain didepak dari kelompok mereka, namun blm bertaubat dari tahdzir serampangan hingga saat ini

    Jafar umar thalib lah yang pertama kali melontarkan tahdzir serampangan ini lalu diikuti oleh murid-murid dan pengikutnya kala itu seperti umar sewed,lukman baabduh, dll termasuk dzulqarnain pun ikut menjadi bagian dari mereka

    Kita sama-sama penuntut ilmu, lebih baik sibukkan diri dengan menuntut ilmu. Jgan menyebarkan postingan² menebar fitnah kayak ginian yaa akhii… Hadaanallahu wa iyyakum

    Betul, sibukkan menuntut ilmu, dan jangan salah dalam memilih guru untuk menuntut ilmu,.. dan jangan ambil ilmu dari jamaah tahdzir

    Balas
  • Maret 31, 2021 pada 6:10 pm
    Permalink

    Coba dengarkan penjelasan ustadz Dzulqarnain di video ini biar paham,… https://youtu.be/-Q-XfPybhgY

    InsyaAllah beliau sudah berubah

    Di video tersebut tidak menjelaskan rujuknya dari menggelari ustadz yazid dengan sebutan mubtadi, kurang ajar pak dzulqarnain ini menggelari gurunya sendiri dengan gelar yang buruk,.
    Mana bukti pak dzulqarnain rujuk dari hal tersebut,. ustadz yg digelari dgn gelaran yg jelek masih hidup, tinggal di bogor, sedangkan pak dzulqarnain tinggal di pasar minggu di istri keduanya, jarak yang dekat, kapan pak dzulqarnain meminta maaf dan membersihkan nama gurunya sendiri,.

    Juga sudahkah meminta maaf dan membersihkan harga diri ustadz2 pemateri radio rodja yg sudah dicemarkan oleh perkataannya???

    Bagaimana mungkin disebut sdh rujuk?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *