Melakukan Ziarah Kubur Menjelang Bulan Ramadhan, Ini Tidak Ada Ajarannya Dari Rasulullah

Membedah Kesalahan-kesalahan di Bulan Ramadhan

ziarah kubur menjelang ramadhan tidak ada ajarannya dari  rasulSemoga Allah senantiasa memperbaiki keadaan setiap muslim dengan mengetahui kesalahan-kesalahan ini.

Berikut adalah beberapa kesalahan yang dilakukan di bulan Ramadhan yang tersebar luas di tengah-tengah kaum muslimin.

1. Mengkhususkan Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan

Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

2. Padusan, Mandi Besar, atau Keramasan Menyambut Ramadhan

Tidaklah tepat amalan sebagian orang yang menyambut bulan Ramadhan dengan mandi besar atau keramasan terlebih dahulu. Amalan seperti ini juga tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lebih parahnya lagi mandi semacam ini (yang dikenal dengan “padusan”) ada juga yang melakukannya campur baur laki-laki dan perempuan dalam satu tempat pemandian. Ini sungguh merupakan kesalahan yang besar karena tidak mengindahkan aturan Islam. Bagaimana mungkin Ramadhan disambut dengan perbuatan yang bisa mendatangkan murka Allah?!

3. Menetapkan Awal Ramadhan dengan Hisab

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسِبُ ,الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا

Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab. Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dengan bilangan 30).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Bazizah mengatakan,”Madzhab ini (yang menetapkan awal ramadhan dengan hisab) adalah madzhab bathil dan syari’at ini telah melarang mendalami ilmu nujum (hisab) karena ilmu ini hanya sekedar perkiraan (dzon) dan bukanlah ilmu yang pasti (qoth’i) atau persangkaan kuat. Maka seandainya suatu perkara (misalnya penentuan awal ramadhan, pen) hanya dikaitkan dengan ilmu hisab ini maka agama ini akan menjadi sempit karena tidak ada yang menguasai ilmu hisab ini  kecuali sedikit sekali.” (Fathul Baari, 6/156)

4. Mendahului Ramadhan dengan Berpuasa Satu atau Dua Hari Sebelumnya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ فَلْيَصُمْهُ

Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka puasalah.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Nasa’i)

Pada hari tersebut juga dilarang untuk berpuasa karena hari tersebut adalah hari yang meragukan. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan maka dia telah mendurhakai Abul Qasim (yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, pen).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dho’if Sunan Tirmidzi)

5. Melafzhkan Niat “Nawaitu Shouma Ghodin”

mam Nawawi rahimahullah –ulama besar dalam Madzhab Syafi’i- mengatakan,

لَا يَصِحُّ الصَّوْمَ إِلَّا بِالنِّيَّةِ وَمَحَلُّهَا القَلْبُ وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلاَ خِلَافٍ

Tidaklah sah puasa seseorang kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan dan pendapat ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama.” (Rowdhotuth Tholibin, I/268, Mawqi’ul Waroq-Maktabah Syamilah)

6. Membangunkan Sahur … Sahur

Sebenarnya Islam sudah memiliki tatacara sendiri untuk menunjukkan waktu bolehnya makan dan minum yaitu dengan adzan pertama sebelum adzan shubuh. Sedangkan adzan kedua ketika adzan shubuh adalah untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Inilah cara untuk memberitahukan pada kaum muslimin bahwa masih diperbolehkan makan dan minum dan memberitahukan berakhirnya waktu sahur. Sehingga tidak tepat jika membangunkan kaum muslimin dengan meneriakkan sahur … sahur …. baik melalui speaker atau pun datang ke rumah-rumah seperti mengetuk pintu. Cara membangunkan seperti ini sungguh tidak ada tuntunannya sama sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah dilakukan oleh generasi terbaik dari ummat ini. Jadi, hendaklah yang dilakukan adalah melaksanakan dua kali adzan. Adzan pertama untuk menunjukkan masih dibolehkannya makan dan minum. Adzan kedua untuk menunjukkan diharamkannya makan dan minum. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memiliki nasehat yang indah, “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen), janganlah membuat bid’ah. Karena (sunnah) itu sudah cukup bagi kalian.”(Lihat pembahasan at tashiir di Al Bida’ Al Hawliyah, hal. 334-336)

7. Pensyariatan Waktu Imsak (Berhenti makan 10 atau 15 menit sebelum waktu shubuh)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ يَهِيدَنَّكُمُ السَّاطِعُ الْمُصْعِدُ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَعْتَرِضَ لَكُمُ الأَحْمَرُ

“Makan dan minumlah. Janganlah kalian menjadi takut oleh pancaran sinar (putih) yang menjulang. Makan dan minumlah sehingga tampak bagi kalian warna merah.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Khuzaimah. Dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abu Daud, Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan shahih). Maka hadits ini menjadi dalil bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan- dan bukanlah 10 menit sebelum adzan shubuh. Inilah yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas berkata,”Berapa lama jarak antara iqomah dan sahur kalian?” Kemudian Zaid berkata,”Sekitar 50 ayat”. (HR. Bukhari dan Muslim). Lihatlah berapa lama jarak antara sahur dan iqomah? Apakah satu jam?! Jawabnya: Tidak terlalu lama, bahkan sangat dekat dengan waktu adzan shubuh yaitu sekitar membaca 50 ayat Al Qur’an (sekitar 10 atau 15 menit).

8. Do’a Ketika Berbuka “Allahumma Laka Shumtu

Ada beberapa riwayat yang membicarakan do’a ketika berbuka semacam ini. Di antaranya adalah dalam Sunan Abu Daud no. 2357, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 481 dan no. 482. Namun hadits-hadits yang membicarakan hal ini adalah hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits tersebut ada yang mursal yang dinilai lemah oleh para ulama pakar hadits. Juga ada perowi yang meriwayatkan hadits tersebut yang dinilai lemah dan pendusta oleh para ulama pakar hadits. (Lihat Dho’if Abu Daud no. 2011 dan catatan kaki Al Adzkar yang ditakhrij oleh ‘Ishomuddin Ash Shobaabtiy). Do’a yang dianjurkan ketika berbuka adalah “Dzahabazh zhoma-u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)” (HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud)

9. Dzikir Jama’ah dengan Dikomandoi dalam Shalat Tarawih dan Shalat Lima Waktu

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189).

10. “Ash Sholaatul Jaami’ah” untuk Menyeru Jama’ah dalam Shalat Tarawih

Ulama-ulama hanabilah berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9634, Asy Syamilah)

11. Bubar Terlebih Dahulu Sebelum Imam Selesai Shalat Malam

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.

12. Perayaan Nuzulul Qur’an

Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabatnya. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan,

لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ

Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.

Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11)

13. Membayar Zakat Fithri dengan Uang

Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum– akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita). “. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/208-211)

14. Tidak Mau Mengembalikan Keputusan Penetapan 1 Syawal kepada Pemerintah

Al Lajnah Ad Da’imah, komisi Fatwa di Saudi Arabia mengatakan, “Jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat (tentang penetapan 1 Syawal), maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya.” (Fatawa no. 388)

15. Takbiran di Malam Idul Fithri

Yang sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah takbiran dilakukan ketika keluar dari rumah menuju lapangan shalat ‘ied.

Demikian beberapa kesalahan atau kekeliruan di bulan Ramadhan yang mesti kita tinggalkan dan mesti kita menasehati saudara kita yang lain untuk meninggalkannya.

Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, sifat ‘afaf (menjauhkan diri dari hal yang tidak diperbolehkan) dan memberikan kita kecukupan. Semoga Allah memperbaiki keadaan setiap orang yang membaca risalah ini.

Wa shallallahu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.pengusahamuslim.com

4 thoughts on “Melakukan Ziarah Kubur Menjelang Bulan Ramadhan, Ini Tidak Ada Ajarannya Dari Rasulullah

  • Juli 9, 2013 pada 4:30 am
    Permalink

    assallamualaikum

    Wa’alaikumussalam warahmatullah<

    mas.sy mau tanya masalah zakat.klu yg afdolnya kt zakat pake uang apa beras.syukron….

    zakat apa nih? kalau zakat fitrah ya pakai makanan pokok, kalau di indonesia ya pakai beras, bukan pakai uang,.

    Balas
  • Juli 27, 2013 pada 6:02 am
    Permalink

    jazakumulloh khoiron ya admin,, ternyata beberapa hal selama ini yg saya lakukan tidak ada dasar hadits yg sahih,, saya sedang memperbaiki pengetahuan tentang islam yg sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah dengan meninggalkan backgroud ormas dibelakang.

    Alhamdulillah,.
    Hendaknya dalil2 yg shahih yg dikedepankan, dengan pemahaman yang shahih pula, bukan dengan pemahaman kelompok, ormas, atau tokoh2 tertentu,
    Alhamdulillah sekarang sarana2 utk mempelajari pemahaman islam yang benar sangat mudah, baik dari web,radio,tv (via parabola) atau datang ke tempat2 taklim yang tersebar di seluruh indonesia,
    Jika anda mau, saya bisa tunjukan tempat taklim yang dekat dengan tempat tinggal anda, silahkan sebutkan kota tempat anda tinggal,
    Jazakallahu khairan,

    Balas
  • Juli 27, 2013 pada 1:21 pm
    Permalink

    Assalaamu’alaikum warohmatulloohi wabarokaatuh..
    Numpg bertny dn mohon penjelsnny, y saudaraku..

    Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

    1>Apkh kegiatn “mandi air pangir” sebelum msukny mlm 1 Ramadhan itu, mf, adlh sesuai dgn Sunnah Rasulullah? Mf, klw hl tsb bukn termsuk Sunnah Nabi, mk knp smpai dgn jelg 1 Ramadhan di thun ini, kegiatn “mandi pangir” tsb msih sj dilkukn di sebgian klgn ummt Muslim, y saudaraku? Apkh kegiatn tsb didsri ats dalil yg wlw lemh skalipun, y saudaraku?

    Ritual tersebut bukanlah ajaran rasulullah, itu adalah budaya masyarakat setempat, bukan ajaran islam.
    Jadi tidak ada dalilnya dari rasulullah, sebab itu bukan ajaran rasulullah, jadi sikap kita adalah meninggalkan ritual-ritual tersebut, tulisan tentang budaya,dan bagaimana menyikapinya, serta contoh2 ritual yang lain, silahkan baca disini

    2>Tentg btsn wktu sahur dgn azn shubuh yg antara 10 hingga 15 menit tsb, mf, apkh itu hl yg bersift ‘mutlak’ atwkh di’boleh’kn kita selesai mkn sahurny 1 atw 2 jm sebelum msukny wktu yg 10 hingga 15 menit tsb, y saudaraku?

    Tidak ada batasan antara 10-15 menit sebelum adzan, atau dikenalnya dengan istilah IMSAK, justru itulah saat yang utama untuk makan sahur, berhenti makan sahur adalah ketika masuk waktu shubuh, silahkan baca postingannya disini

    3>Jika smpai dgn saat ini, sy dn mungkin sj mayoritas ummt Muslim lainny yg ada di Indonesia ini msih membc doa “Allaahumma laka shumtu … dst” pd saat kmi berbuka puasa, mk bgaimnkh hukumny puasa kmi itu menurut Al Qur’an dn Sunnah Rasulullah? Apkh sh dn diterimakh puasa kmi dgn doa berbuka puasa tsb?

    Yah, itulah jika kita beragama ikut2an saja, tidak mau mempelajari lagi,apakah ibadah kita ada contohnya dari rasulullah atau tidak, ada dalilnya atau tidak, contohnya seperti doa tersebut, ternyata rasulullah tidak mengajarkan yang seperti itu, silahkan lihat dipostingan ini tentang bacaan doa puasa yang diajarkan rasulullah

    Bagi orang yang belum mengetahui bacaan doa yang benar, atau tidak membaca doa tsb, itu tidak membatalkan puasanya, puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan keutamaan dari membaca doa berbuka tsb,
    Tentu mengikuti petunjuk rasululullah dalam berpuasa, berbuka, sahur, itu banyak keutamaan dan pahala,.

    4>klw dzikir berjm’ah tergolong amln yg tdk ada tuntunny dlm Islm,
    mk bgaimn pula dgn do’a sesudh sholt 5 wktu, sholt Jum’at, sholt Trwih, sholt Ied, dn sholt-sholt berjm’ah yg lainny dn bgaimn juga dgn kegiatn Perkumpuln Wirid Yasin setiap mlm Jum’at yg di dlmny biasa diisi dgn pembc-an surh Yasin, Takhtim, Tahlil dn ditutup dgn pembc-an do’a yg juga dilkukn scr berjm’ah? Bgaimn status hukumny

    Doa secara umum, contoh kita berdoa, itu silahkan saja, bebas, tapi kalau doa secara khusus, dengan lafadz-lafadz atau ucapan-ucapan yg khusus, maka ini butuh kepada dalil yang memerintahkannya, demikian pula pembacaan ayat-ayat alquran secara tertentu, di malam tertentu, ini butuh dalil dari rasulullah,
    Jika ada dalilnya maka kita kerjakan, tapi jika tidak ada dalilnya maka wajib ditinggalkan,

    Untuk YASINAN, silahkan baca postingan ini

    5>Berdsrkn pembhsn di ats, mk apkh klw kita menukar zkt fitrh kita dgn uang yg nilainy = nilai zkt fitrh dgn beras, yg mn kita melkuknny dgn mengikuti anjurn yg diumumkn oleh pihk Bdn Amil Zkt Fitrh yg ada di daerh tempt kita tinggl, mk apkh hl tsb, jika berdsrkn tuntunn Al Qur’an dn Sunnah Rasulullah, adlh sm sj artiny dgn kita dianggp msih “belum” atw bhkn “sm sekali tidk ada” mengeluarkn zkt fitrh kita, y saudaraku? Mf, apkh perbuatn yg demikian itu = “dihrmkn” atwkh “mubah” hukumny menurut tuntunn Al Qur’an dn Sunnah Rasulullah?

    Membayar zakat fitrah tidak boleh dengan uang, mengikuti anjuran rasulullah tentu lebih didahulukan daripada mengikuti anjuran amil zakat, dan amil zakat yang seperti itu harusnya dinasehati,agar mengikuti anjuran rasulullah, silahkan baca postingan ini tentang wajibnya membayar zakat fitrah dengan makanan pokok, bukan dengan uang

    6>Apkh hukumny bila ada Bdn Amil Zkt Fitrh di suatu msjid, yg membwt kebijkn utk membgikn zkt fitrh dri ummt muslim di daerh tsb, yg berupa beras dn uang yg telh ditentukn jumlhny berdsrkn hsil musywrh, kpd yg mustahaqny, yaitu pd sebelum mlm tkbirn, dgn alsn agr bisa lebih cept digunakn oleh pr mustahaq tsb dlm menymbut Idul Fitri? Apkh yg spt itu tergolong amln yg dihrmkn, atw dibolehkn, atw mlh diktegorikn bid’ah menurut tuntunn Al Qur’an dn Sunnah Rasulullah?

    Jika ada amil yang seperti itu, bisa saja org yang membayarkan zakatnya dengan uang, lalu dibelikan beras oleh amil zakat tersebut sesuai dengan beras yang dimakan oleh si pemberi zakat, dan nanti pembagian zakat fitrah tsb dalam bentuk beras, bukan dalam bentuk uang,.
    Di jaman rasulullah juga sudah ada uang dinar dan dirham, tapi rasulullah tidak menggunakan uang sebagai alat membayar zakat fitrah, dan Rasulullah pasti lebih tahu tentang kemaslahatan si penerima zakat, jadi alasan agar bisa lebih cepat digunakan oleh si penerima zakat adalah alasan yg tdk bisa diterima,
    Mengikuti contoh rasulullah tentu lebih utama daripada menyelisihinya,..

    Terima ksih ats jwbn dn penjelsnny, y saudaraku..

    Wassalaamu’alaikum.

    Mohon maaf sebelumnya, jika bertanya jangan banyak-banyak, satu pertanyaan saja, jangan mbrudul spt ini,
    Untuk berikutnya yang akan saya tanggapi satu pertanyaan saja,
    Wa’alaikumussalam warahmatullah

    Balas
  • Juni 26, 2016 pada 2:51 am
    Permalink

    Assalamualaikum pak
    Saya mau bertanya, waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah sejak terbit fajar shodiq –yaitu ketika adzan shubuh dikumandangkan, nah kalo waktu mulai makan itu dimulai kapan yah ?

    misalnya saya makan jam 2 tengah malam untuk niat puasa terus saya pergi tidur untuk istirahat, dan pada saat adzan shubuh dikumandangkan saya lanjut untuk sholat shubuh.
    Terima Kasih

    Wa’alaikumussalam warahmatullah,
    Waktu imsak itu dari terbit fajar hingga terbenam matahari,.
    Jadi kapan boleh makan? ya setelah terbenam matahari, yaitu saat waktu berbuka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *