Menjawab Komentar Dokter Ngustadz Dan Ustadz Medsos

YANG HARUS DILURUSKAN

[1]. COVID ITU HOAX

Kami bukan tidak percaya covid, atau menganggap covid itu tidak ada. Akan tetapi covid adalah penyakit sebagaimana penyakit lainnya, ia adalah wabah sebagaimana wabah lainnya. Ia adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak akan keluar dari kuasa dan perintah-Nya.

Menjawab komentar

Ia akan menimpa siapa saja yang ditetapkan oleh Allah 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan langit dan bumi, dan akan luput dari siapa saja yang Allah kehendaki.

Sehingga apa yang kita lakukan untuk menghindari penyakit hanya sebatas ikhtiyar dan usaha, namun semua tetap pada takdir Allah.
Allah berfirman:

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَنَآ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَنَاۚ هُوَ مَوْلٰىنَا وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal. At-Taubah:51

Bahkan cara kita mati, dimana kita mati, dan kapan kita mati telah ditulis dalam takdir yang tidak akan luput dan berubah.

Kalau seseorang harus mati karena covid, dia pasti mati karenanya tidak bisa tidak. Begitupula dengan cara kematian lainnya.

Allah berfirman:

ۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَا ۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْ ۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

…Mereka berkata, “Seandainya ada sesuatu yang dapat kami perbuat dalam urusan ini, niscaya kami tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui segala isi hati” Ali Imran: 154

Oleh karena itu, kami tidak menganggap lebih sebagaimana penyakit dan wabah lainnya yang pernah ada di jaman dahulu bahkan lebih mengerikan dan mematikan.

Karena sikap berlebihan akan membinasakan.

[2] ANTI PROTOKOL KESEHATAN

Bukannya kami anti prokes! Kami bahkan taat melaksanakan prokes, akan tetapi ketika dikaitkan dengan ibadah, maka perintah Allah dan rasul-Nya lebih kami dahulukan dibandingkan perintah WHO.

Apa alasan kami?

[Pertama]: Prinsip kami, tidak ada siapapun yang perkataannya mendahului Allah dan rasul-Nya, siapapun dia, baik organisasi global maupun pemerintah lokal. Karena Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” Al-Hujurat: 1

[Kedua]: Wabah, dan penanganan syariat terhadapnya sudah ada dari jaman dahulu.

Tidak ada satupun riwayat yang mengubah kaifiyat ibadah ketika terjadi wabah.

Prinsip kami, agama islam adalah agama yang sempurna, dan syariatnya berlaku sampai hari kiamat.

Kami meyakini juga bahwa Allah maha mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya.

Covid 19 sudah Allah ketahui bahwa akan terjadi pandemi ditahun-tahun ini, akan tetapi Allah tidak syariatkan khusus kaifiyat ibadah dimasa pandemi, yang menguatkan keyakinan dan pendapat kami bahwa syariat tidak berubah dengan sebab pandemi sebagaimana dimasa yang telah lalu.

[Ketiga]: Berapa lama sholat yang kami lakukan dengan merapatkan shaff dan membuka masker dibandingkan dengan aktifitas manusia lainnya??

Apakah ketika kami beribadah tidak mengindahkan kesucian dan kebersihan sehingga masjid terus menjadi target seakan asal dari wabah ini.

Selain ketika beribdah, kami berusaha mentaati prokes yang diatur pemerintah.

[3]PENGGEMAR TEORI KONSPIRASI

Kami bukan penganut dan penggemar teori konspirasi atau menuduh covid adalah upaya propaganda, atau pengkonsumsi dan penyebar berita hoax.

Hanya saja yang harus diperhatikan bahwa:

[Pertama]: Tidak semua berita yang sampai dari media/ilmuan terlebih dari orang kafir kita telan bulat-bulat dan mentah-mentah.

Kalau sekiranya kepada Imam yang sholeh dan Jujur saja kita tidak boleh mengikuti pendapatnya tanpa tahu alasan dan dalilnya, lalu bagaimana dengan orang kafir?!

Terhadap orang beriman saja kita harus teliti beritanya, apalagi dari mereka. Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” Al-Hujurat: 6

[Kedua]: Seorang pelajar dan Ahli ilmu harus melihat kepada realita dan kenyataan.

Apa realita tersebut?

Bahwa mayoritas penduduk negeri bukanlah orang yang amanah dan jujur, kebanyakan mereka adalah yang khianat dan suka berdusta.

Bagaimana kita mengambil standar dari kebanyakan orang tanpa meneliti kebenaran dan langsung mencap hoax yang bertentangan dengan kebanyakan orang, ketika kebanyakan orang adalah bukan orang yang amanah dan jujur??!

Kita ambil contoh tentang masalah dicovidkan, yang seorang dokter terkenal yang diustadzkan dan seorang ustadz medsos dalam sebuah ceramahnya mengatakan bahwa dicovidkan itu hoax.!

Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah mereka sudah meneliti realitas di masyarakat?

Apakah benar semua kasus dicovidkan tidak ada?

Bagaimana dengan realitas kasus yang ada?

Kalau mereka katakan: “Untung apa yang tenaga kesehatan dapatkan dengan dicovidkan?”

Mereka mungkin lupa atau tidak tahu bahwa rumah sakit itu adalah lembaga bisnis dan profit, bukan lembaga sosial murni.

Jadi untuk menarik keuntungan memang menjadi asas mereka.

Dan sekali lagi, ini bukan hukum kepada keseluruhan tapi kita tidak menafikan kasus per kasus yang ada, karena menyaksikan realita secara langsung, ada yang dicovidkan.

[4] ANTI VAKSIN

Kami bukan anti vaksin, hanya saja kami melihat bahwa vaksin itu merupakan salah satu cara untuk terhindar dari penyakit atau bagian dari pengobatan sehingga:

Pertama: Untuk berobat, kami berhak menentukan obat mana dan pencegahan mana yang kami inginkan menghadapi penyakit ini.

Kedua: Vaksin itu lebih tepat diqiyaskan kepada obat sehingga harus terpenuhi beberapa kriteria:

1. Teruji bahwa efektif mengobati dan menangkal penyakit.
2. Tidak memiliki bahaya.
3. Bahannya halal, dan ini menjadi syarat muthlak dalam kaedah pengobatan.

Nabi bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ فَتَدَاوَوْا وَلَا تَتَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

“Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, berobatlah! Jangan kalian berobat dengan yang haram!” lihat Shohih al-Jami’ (1762)

Selama syaratnya terpenuhi, maka dibolehkan untuk berobat/mencegah penyakit dengannya.

Ketika syaratnya tidak terpenuhi maka tidak boleh berobat dengannya.

Dan tidak tepat ketika vaksin diqiyaskan kepada inqodzun nafs (menyelamatkan jiwa) dengan contoh kasus, apabila seorang kelaparan dan akan mati dengan kelaparan, dan hanya ada daging babi untuk dimakan, maka wajib ia memakan daging babi untuk menyelamatkan jiwa.

Qiyas ini salah karena memang tidak sama antara vaksin dengan inqodzun nafs di atas.

Sisi perbedaan:

1. Menyelamatkan jiwa dengan makan daging babi, jelas menghilangkan lapar dan menyelamatkan, adapun vaksin tidak bisa menjamin terbebas dari penyakit, bisa iya dan bisa juga tidak.

Maka ia seperti obat, kadang bisa sembuh dengannya, kadang tidak.

2. Menyelamatkan jiwa dengan yang haram, diwajibkan dengan syarat tidak ada yang halal untuk dimakan, adapun menghindari covid dan berobat dengannya masih banyak alternatif lain yang bisa dilakukan.

Kemudian yang mengherankan dari dokter yang diustadzkan adalah dia menyatakan bahwa mudhorot vaksin itu hoax, kematian karena vaksin itu hoax.

Apakah dia sudah benar-benar meneliti hoaxnya mudhorot tersebut, atau Cuma sekedar menuduh hoax tanpa bukti?

Apalagi hujjahnya adalah berita koran dan media bahwa ada bayi yang meninggal setelah minum susu. Kemudian dia berkata: “Apakah dengan ini kita mengatakan bahwa haram minum susu dan susu penyebab kematian”…

Nampak jauh sekali keilmiahannya ketika menyamakan susu dengan vaksin, karena sifat asalnya sudah berbeda, bahwa susu jelas mashlahat dan tidak mengandung bahaya, sedangnkan vaksin pada dasarnya adalah virus yang dimatikan atau dilemahkan, dan jelas ada unsur bahaya disana.

Menuduh hoax suatu realita tanpa penelitian dan bukti adalah hoax yang sesungguhnya.

[5]. Adapun masalah abang-abang dari bekasi yang omongannya tidak beretika, kita anggap aja dia orang yang dapet udzur ketika nuduh idiot orang lain.

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبَرَ، وَعَنِ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Diangkatnya pena dari tiga golongan: dari orang tidur sampai dia bangun, dari anak kecil sampai ia dewasa, dari orang gila sampai ia berakal” Ibnu Majah (2041)

jandriadi yasin

jandriadi

Anggep aja omongan dia omongan orang lagi tidur, atau omongan bocah kecil, atau omongan ….. isi sendiri dah..

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2127257184094797&id=100004316073711

One thought on “Menjawab Komentar Dokter Ngustadz Dan Ustadz Medsos

  • Juli 15, 2021 pada 10:40 pm
    Permalink

    bismillah
    Saya kebingungan….
    terutama mengenai vaksin
    dan sholat berjamaah dimasjid

    sikap kita bagaimana?
    tetap sholat berjamaah
    dan berusaha menolak vaksin?
    jazakumullah khoiron

    Yang mampu mengangkat wabah ini adalah Allah, bukan dokter,obat atau vaksin
    Maka bertaubat, meminta ampun kepada Allah dan berdoa agar Allah angkat wabah ini.
    Taati perintah Allah jangan mendurhakainya..
    Protokol yang Allah tetapkan jelas yang wajib didahulukan dibanding lainnya..
    Jika anda merasa sakit tidak usah shalat berjamaah di masjid, itu uzur
    Coba baca lagi artikel di atas dengan seksama,..
    Silahkan baca kisah ini, kejadian wabah yang jauh lebih mengerikan dibanding covid, apa yang dilakukan kala itu , baca di postingan ini

    Balas
  • Juli 18, 2021 pada 12:38 am
    Permalink

    Saya ingin menambahi soal dokter yg di ustadzkan, ada kajian beliau yg membahas vaksin. Beliau berkata bahwa tidak benar kalau vaksin itu mengandung babi (waktu itu LG rame vaksin rubella) padahal sudah jelas oleh MUI bahwa vaksin rubella mengandung babi.

    Dia dokter ngustadz, tapi bukan ahli vaksin,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *