Perselisihan Ulama Dan Beberapa Penyebabnya

sikap bijak

Sebab-sebab Perselisihan Di Antara Para Ulama

Sebab Pertama:

Bahwa dalil (untuk suatu hukum) tidak sampai kepada ulama yang menyelisihi (kebenaran) sehingga dia salah dalam hukumnya.

Sebab ini tidak khusus untuk orang-orang setelah para Shahabat saja, tapi juga terjadi di kalangan para Shahabat dan orang-orang setelahnya.

Kita ambil dua buah contoh yang terjadi pada para Shahabat dari jenis ini:

Contoh pertama: Kita mengetahui riwayat yang shahih dalam Shahih Al-Bukhari dan lainnya, ketika Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththtab radhiyallaahu ‘anhu melakukan perjalanan menuju Syam. Dan di tengah jalan, beliau diberitahu bahwa ada wabah di sana -yaitu: Thaa’uun-.

Maka beliau berhenti dan bermusyawarah dengan para Shahabat yang lain radhiyallaahu ‘anhum, beliau bermusyawarah dengan para Muhajirin dan Anshar, dan mereka berselisih menjadi dua pendapat.

Dan pendapat yang terkuat adalah pendapat untuk kembali (ke Madinah dan tidak melanjutkan perjalanan ke Syam karena ada wabah-pent). Di tengah diskusi dan musyawarah ini; maka datanglah ‘Abdurrahman bin ‘Auf -yang dia tidak ikut musyawarah karena ada suatu keperluan-, maka dia berkata: Saya punya ilmu tentang masalah ini, saya mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ ؛ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا؛ فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه

“Jika kamu mendengar (wabah Thaa’uun) itu ada di suatu negeri; maka janganlah kamu memasuki (negeri tersebut), dan jika kamu ada di dalam negeri itu ketika wabah terjadi; maka janganlah kamu keluar untuk melarikan diri darinya.”

Maka hukum ini telah samar atas para pembesar Shahabat dari Muhajirin dan Anshar, sampai datang ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan dia mengabarkan hadits ini kepada mereka.

Contoh yang lain: ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu dan ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa berpendapat bahwa: wanita hamil yang ditinggal mati suamainya; maka ‘iddahnya adalah dengan yang paling lama dari dua waktu: dari (1) empat bulan sepuluh hari, atau (2) sampai wanita itu melahirkan. Sehingga jika dia melahirkan sebelum empat bulan sepuluh hari; maka ‘iddah-nya belum selesai sampai lewat empat bulan sepuluh hari.

Dan jika telah lewat empat bulan sepuluh hari dan wanita itu belum juga melahirkan; maka ‘iddahnya belum selesai sampai dia melahirkan.

Karena Allah Ta’aalaa berfirman:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ

“…Sedangkan perempuan-perempuan yang hamil; maka ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya…” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Dan Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا ۖ

“Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri; maka hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari…” (QS. Al-Baqarah: 234)

Maka di antara dua ayat tersebut ada keumuman dan kekhususan (dilihat dari masing-masing) segi. Dan cara untuk menggabungkan keduanya adalah dengan suatu kesimpulan yang bisa menggabungkan keduanya, dan tidak ada cara lain kecuali dengan menempuh apa yang ditempuh oleh ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa. Akan tetapi (ada penjelasan dari) Sunnah (Nabi) yang tentunya (dijunjung) di atas semua (pendapat).

Telah shahih dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari hadits Subai’ah Al-Aslamiyyah bahwa dia nifas setelah beberapa hari kematian suaminya, maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengizinkannya untuk menikah.

Jadi penjelasannya: bahwa kita mengambil Surat Ath-Thalaq -yang dinamakan Surat An-Nisaa’ Shugra ; yaitu keumuman firman Allah:

وَأُولَاتُ الْأَحْمَالِ أَجَلُهُنَّ أَنْ يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ ۚ

“…Sedangkan perempuan-perempuan yang hamil; maka ‘iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya…” (QS. Ath-Thalaq: 4)

Dan saya yakin bahwa kalau hadits ini sampai kepada ‘Ali dan Ibnu ‘Abbas; pasti keduanya akan mengambilnya dan tidak terus mengikuti pendapat tersebut.

Sumber : Ebook yang diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Hendrix Eskanto halaman 20 – 23

Judul Asli : Kitabul Ilmi  bagian “Risaalah Fil Khilaaf Bainal ‘Ulamaa: Asbaabihi Wa Mauqifinaa Minhu” (Risalah Tentang Perselisihan Para Ulama: Sebab-Sebabnya Dan Sikap Kita Terhadapnya) karya Syaikh Muhammad bin Shalih Alutsaimin rahimahullah

DOWNLOAD EBOOK tentang perselisihan ulama dan penyebabnya  di LINK INI, tinggal SAVE AS lalu ENTER

1 Comment

  1. Assalamualaikum,
    saya mau bertanya bagaimana cara menghadapi was was? sering rasanya mengira ibadah tidak diterima dan kencing menetes lagi padahal sudah lama di wc

    wa’alaikumussalamwarahmatullah
    was-was seperti itu adalah dari setan, setan yang menghembuskannya sehingga timbul rasa seperti itu.

    Jika menuruti was-was tersebut maka setan bergembira telah berhasil menimbulkan rasa was-was sehingga menimbulkan keraguan terhadap ibadah yang dilakukan.

    Simak penjelasan di video ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*