NGAWUR Dan SEMBRONO Mengatakan Majlis Shahih Bukhari Bukan Untuk Pemula

Majelis Shahih Bukhori Tidak untuk pemula?! (Sepenggal kisah khataman Shahih Bukhari)

“MENUNTUT ILMU ITU HARUS TADARRUJ (BERTAHAP)”

Begitulah kata yang kami dengar dan tidak sedikitpun kami ingkari perkataan ini. Hanya saja sebagian penuntut ilmu seringkali salah dalam menempatkan suatu kaidah pada permasalahan yang ia hadapi. Ya, kaidahnya benar, namun yang salah adalah penerapannya.

Apabila perkataan ini di tujukan untuk majelis Shahih Bukhori yang di asuh oleh fadhilatul ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat tentu sangat salah dan keliru, kalaulah kita tidak katakan ngawur dan sembrono.

Hari ini ustadz mengisahkan tentang awal kisah bagaimana memulai kajian ini, setelah menjelaskan bahwa Imam Bukhari menamatkan penulisan kitab ini selama 16 tahun. Sedangkan Al-hafidz Ibnu Hajar mensyarah kitab ini selama 29 tahun, 4 tahun membuat muqoddimah Syarah yang beliau namakan hadyus sari, dan 25 tahun mensyarah matan haditsnya. Sedangkan beliau hafidzahullah membacakan Syarah dan menta’liq serta menambah faidah selama 27 tahun, 2 tahun lebih muda dari usaha Al-hafidz Ibnu Hajar.

Awal kisahnya dimulai pada tahun 1992. Ketika beliau sering duduk membaca di perpustakaan LIPIA sebuah kampus yang didirikan tahun 1980 yang menggembirakan ahlussunah salafiyyun. Maka para pelajar muda mendirosahkan hadits dengan sanadnya bersama beliau, yang selama ini mereka belajar hadits hanya dari matannya. Beliau menuturkan:

“HADITS TANPA SANAD LAYAKNYA BERPERANG TANPA SENJATA”

Karena para pelajar asyik mendirosahkan hadits di perpustakaan, maka mereka sering telat masuk kelas dan menyebabkan wakil mudir menegur beliau. Akhirnya disepakatilah bahwa kajian harus dilaksanakan di luar, dan karena diluar jauh dari perpustakaan, maka dipilihlah kitab Fathul bari yang mengumpulkan amat banyak dirosah sanad untuk kitab yang paling shohih setelah Al-Qur’an.

Ya, awalnya kajian hanya untuk mahasiswa LIPIA dengan tidak menterjemah kecuali sedikit. Namun akhirnya satu persatu orang awam datang yang memaksa kajian harus diterjemahkan, bahkan tidak semua pembahasan dibaca untuk disesuaikan pada kalangan awwam. KARENA TIDAK LAYAK SUATU ILMU DIBERIKAN KECUALI UNTUK ORANG YANG PANTAS MENDAPATKAN NYA.

Akhirnya mahasiswa pun meminta dirosah kembali dilakukan di maktabah LIPIA. Demikianlah singkat cerita dari beliau.

Dan kita yang hadir pun bisa mengetahui bahwa fadhilatul ustadz betul-betul menyesuaikan pembahasan dengan jamaah yang hadir (duhai kiranya mereka inshof).

Bahkan bukan cuma faidah fiqhiyyah, muamalah, aqidah, manhaj . Yang paling sering dibahas panjang lebar justru adalah realita yang terjadi dan dibahas sesuai dengan kaidah, dalil dan hukumnya.

Sehingga, berlebihan kalau ada orang bahkan dai yang menyindir para penuntut ilmu dan orang awam yang hadir di kajian beliau. Terlebih apakah mereka yang hadir tidak belajar lagi di tempat lain yang belajar dengan tertib ilmiyah?!

Banyak orang awam pun yang hadir mereka belajar di tempat lain untuk memperdalam bahasa Arab, tajwid, nahwu, shorof, dan ana saksikan langsung mereka belajar.

Dan kalaupun tidak, apakah betul-betul tidak bisa diambil manfaat hadir di majelis beliau!??? Aneh memang….

Kalau sekiranya cuma akhlak dan adab saja yang bisa diambil dalam majelis beliau beserta keutamaan berada di majelis ilmu tentulah merupakan ghanimah yang amat banyak…

Lalu bagaimana jika lebih-lebih banyak dari sekedar itu.

Syaikh Abdul Aziz As-Sidhan berkata dalam: ma’alim fii Thoriq tholabil ilmi hal. 63

“Perkara yang kedua belas: Mencontoh akhlak guru

Terkadang seseorang berkata: Apakah aku menghadiri pelajaran seorang Syaikh yang aku tidak paham pelajarannya kecuali sedikit?

Maka dikatakan kepadanya: hadirlah! Bukanlah tujuan dari hadir di majelis untuk mendapatkan faidah ilmiyah saja. Akan tetapi disana anda bisa melihat akhlak gurumu dan mencontohnya.

Al-Imam As-Sam’ani dan selainnya menyebutkan bahwa majelis imam Ahmad dihadiri oleh 5000 orang. Dan berkata penukil: lima ratus orang menulis dan sisanya mencontoh sifat, Akhlak dan adab dari imam Ahmad.

Berkata Abu Bakar Al-Muthowwi’i: aku menghadiri majelis abu Abdillah, dan ia membacakan kepada anak-anak nya Musnad, aku tidak ikut mencatatnya akan tetapi aku melihat kepada adab dan akhlaknya.”

Semoga Allah merahmati fadhilatul ustadz Abdul Hakim Abdat.

Dika Wahyudi Lc.

Sumber: Postingan di akun FB ustadz Dika Wahyudi

Berikut saya lampirkan SS perkataan ngustadz yang membuat status ngawur dan sembrono menganjurkan untuk tidak mendatangi majlis shahih bukhari

ngawur dan sembrono

Biar tidak ikut ngawur dan sembrono, jangan ambil ilmu dari sembarang orang walaupun casingnya seperti salafi, yang dikaji adalah kitab ulama salafi, tapi ambillah ilmu dari ustadz yang sudah dikenal dan dari akaabir, baca ulasannya di sini

Mengambil ilmu pun jangan asal, apalagi dari dai-dai jamaah tahdzir, atau dari murid-murid dai tersebut, nah ngustadz yang membuat pernyataan bahwa majlis shahih bukhari yang diampu oleh Ustadz Abdul Hakim Abdat itu bukan untuk pemula, dia itu adalah murid-muridnya dai jamaah tahdzir, banyak yang tidak paham sejarah tentang mereka, baca ulasannya di sini

 

One thought on “NGAWUR Dan SEMBRONO Mengatakan Majlis Shahih Bukhari Bukan Untuk Pemula

  • Januari 19, 2020 pada 5:41 am
    Permalink

    Bismillah,apakah sy berlebihan kalau mengatakan dai tsb mulai dihinggapi penyakit hasad?

    Dia ngustadz,.. simak pemaparannya di sini
    Ambil ilmu dari dai yang jelas dan dikenal saja, baca ulasannya di sini
    Jangan ambil ilmu dari jamaah tahdzir, atau mantan jamaah tahdzir yang katanya sudah rujuk tapi tidak mau duduk di majlis ilmu, tapi langsung mengajar, sehingga belum hilang atsar masa lalunya, jangan terkecoh dengan penyamaran mereka, jangan pula ambil ilmu dari murid-murid dai jamaah tahdzir, ulasannya baca di sini

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *