Tiga Macam Ulama, Jadilah Ulama Agama

ULAMA ADA TIGA MACAM

tiga macam ulamaSyaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:
“Ulama ada tiga macam: Ulama negara, Ulama umat, dan Ulama agama.

(1)- Ulama Negara: Ulama yang melihat kepada apa yang diinginkan oleh negara; kemudian dia berfatwa dengannya secara terus menerus.

Melihat apa yang dikatakan oleh pemimpin (presiden/raja), menteri, atau yang semisalnya; secara terus menerus: Apa yang dihalalkan oleh pemimpin; maka itulah yang halal, dan apa yang diharamkan olehnya; maka itulah yang haram. Inilah ulama negara.

(2)-Ulama Umat: Ulama yang mengikuti apa yang disenangi oleh manusia walaupun hal itu menyelisihi kebenaran yang ada padanya.

Ini ulama, tapi dia mengikuti manusia; maka dia seperti yang pertama: berdosa dan ilmunya menjadi bencana atasnya.

(3)- Ulama Agama: Ulama yang dia tidak perduli dengan (pendapat) negara dan tidak pula perduli dengan (pendapat) manusia, Dia hanya berfatwa dengan apa yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah saja; baik manusia murka maupun ridha.

Inilah ulama yang hakiki, dan inilah ulama rabbani.

Dan kewajiban setiap ulama yang berilmu terhadap syari’at Allah: untuk menjadi Ulama Agama, walaupun menyelisihi manusia.

Dia akan keluar dari dunia dengan kain kafannya dan minyak mayatnya saja, sedangkan manusia tidak akan mencukupinya sedikit pun.

(Sebagaimana firman Allah)

{إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَأَوُا الْعَذَابَ…}

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab,…” (QS. Al-Baqarah: 166)

{وَقَالُوْا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّوْنَا السَّبِيلَا}

“Dan mereka berkata, “Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Ahzaab: 67)

Sampai walaupun seorang menjadi Ulama Umat dan dihormati di sisi mereka; maka ini akan sirna, dengan kematiannya; maka semua akan sirna.

Akan tetapi kalau seorang itu menjadi Ulama Agama; maka Allah akan meninggikan penyebutan (nama)nya di dunia dan setelah wafatnya, dan akan ada keberkahan pada ilmunya.

Oleh karena itulah saya harapkan dari saudara-saudaraku penuntut ilmu: untuk menjadi ulama jenis ini, Ulama Agama, dimana dia menjelaskan kebenaran sebagaimana Allah perintahkan mereka dengan hal tersebut dan Allah ambil perjanjian dari mereka:

{وَإِذْ أَخَذَ اللهُ مِيْثَاقَ الَّذِيْنَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُوْنَهُ…}

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), “Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,”…” (QS. Ali ‘Imran: 187)

Maka ini sebagaimana mencakup Yahudi dan Nasrani: maka mencakup juga ulama yang diberikan ilmu Kitab (Al-Qur-an) dari umat ini (umat Islam)

{…لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهُ فَنَبَذُوْهُ وَرَاءَ ظُهُوْرِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيْلًا فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ}

“…“Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka itu seburuk-buruk jual-beli yang mereka lakukan.” (QS. Ali ‘Imran: 187).”

-diterjemahkan oleh: Ahmad Hendrix

sumber: https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/1248262382181302

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*